Words worth attack of the orcish horde - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
"Buka mulut, jenderal pelacur!" perintahnya.
Dia berusaha mengelak ketika penis itu disodorkan padanya, matanya menatap penuh amarah pada makhluk itu. Merasa ditantang si orc itu naik pitam, dijambaknya rambut emas itu lebih kuat dan dicubitnya salah satu putingnya sehingga dia mengerang kesakitan. Kesempatan itulah yang dipakai si orc untuk menjejali mulut Sharon dengan penis hijaunya. Wajah Sharon didorong ke arah penisnya tanpa peduli kesulitannya bernafas. Benda itu hanya masuk kepala dan sebagian batangnya saja karena besarnya. Orc itu lalu menggerak-gerakkan pinggulnya menyetubuhi mulut Sharon. Sharon sendiri bekerja keras menghisap dan mengulum benda itu dalam mulutnya. Kulumannya sungguh membuat orc itu mengerang-ngerang keenakan.

Sharon merasa penis yang dikulumnya berdenyut lebih keras, rupanya orc itu sudah mau keluar. Disertai suara geraman yang lebih keras, cairan itu muncrat banyak sekali melebihi yang disemprotkan manusia, tentu saja mulut Sharon tidak dapat menampung seluruh cairan itu, dia tersedak dan cairan itu sebagian meluber di bibirnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain cepat-cepat menelan semua cairan itu agak tak terlalu terasa. Sehabis berejakulasi di mulutnya orc itu menelentangkan tubuh Sharon. Dia membentangkan kedua belah pahanya dan mengambil posisi diantaranya, tangan kanannya mengarahkan penisnya memasuki vagina Sharon.

Orc itu mulai memompakan penisnya di dalam vagina Sharon. Jeritan histeris terdengar dari mulutnya setiap kali orc itu mengirimkan tusukan keras ke vaginanya. Lainnya yang menonton memberikan sorak sorai seperti sebuah pertandingan sepak bola, semakin Sharon histeris, semakin seru mereka menyorakinya. Sharon menggigit bibirnya menahan sakit, dia merasakan tubuhnya robek oleh penis orc itu.
"Uuhh.. unghh.. vaginamu benar-benar enak, bitch!" ejek orc itu, sementara tangannya dengan gemas meremas-remas payudaranya.
Beberapa saat kemudian badan orc itu mengejang sambil mempercepat hentakkannya, kedua tangannya semakin erat mencengkram payudaranya. Akhirnya dengan mengerang panjang orc itu memuntahkan spermanya di vagina Sharon.

Melihat Sharon tidak bersama dengannya mencapai orgasme, orc itu menjadi kesal.
"Kurang ajar, sudah diperkosa saja masih sombong tidak mau orgasme denganku, hah!" bentaknya sambil menjambak rambut Sharon, wajahnya yang mengerikan tidak jauh dari wajah cantiknya melototinya
Sharon hanya menanggapinya dengan tatapan mata dingin dan senyum sinis, lalu "Puuiihh!" diludahinya wajah monster itu. Sungguh bagaikan seekor singa betina, keangkuhannya tidak runtuh sekalipun dalam kondisi genting bagi seorang wanita seperti ini.
"Hehehe.. hebat, berani sekali, tidak percuma kau jadi jenderal di negeri Shadow, tapi coba kita lihat apa sekarang kamu masih bisa sombong, anak-anak.., beri pelajaran pada pelacur ini!"

Mendengar aba-aba itu, lima orc maju secara serempak mengerubuti tubuhnya. Mereka sudah tidak tahan melampiaskan nafsunya karena daritadi hanya menonton. Kini mereka sudah mulai berpesta dengan tubuh Sharon
"Ayo memohon dan minta ampun manis, mungkin aku akan kasihan dan menjadikanmu selir kesayanganku, hahaha..!" jenderal orc itu tertawa-tawa menghinanya.
Sementara itu Sharon berjuang keras melawan kelima orc yang sedang mengerjainya, dia juga berjuang dengan dirinya sendiri antara perasan nikmat dan benci. Kelimanya melucuti sisa-sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya, sarung tangannya mereka sobek di bagian telapak tangan supaya bisa merasakan kehalusan tanganya.

Salah satu orc menyelipkan kepalanya diantara kedua paha jenjang itu dan menjilati vaginanya yang telah basah, dua orc lainnya masing-masing bermain dengan payudara kanan dan kirinya, mereka dengan bernafsu memijat, menjilat, dan mengisap kedua gunung itu, satu lagi yang berlutut dekat wajahnya menarik kepala Sharon dan dengan paksa menjejali mulutnya dengan penisnya, dan satu orc lainnya meraih tangannya untuk dipakai mengocok penisnya. Sharon mulai merasakan ada yang aneh menggelitik dari bawah, orc itu sedang asyik menyedot dan menjilati vaginanya, lidahnya yang panjang menerobos masuk ke sana serta menjilati dinding-dinding kemaluannya sehingga dia tak dapat menahan tubuhnya menggeliat-geliat, kedua belah paha mulusnya semakin erat mengapit kepala si orc.

Orc yang tadi melumat payudara kirinya kini naik ke dadanya, lalu menyelipkan penisnya diantara kedua bukit kembar itu. Dia mengocok penis itu diantara himpitan kedua bongkahan kenyal itu, sambil mengocok terkadang dia memilin puting susu yang sudah mengeras itu.
"Emmphh.. eengg.. mm!" desah Sharon tertahan oleh penis hijau di mulutnya.
Orc yang dikulum penisnya orgasme duluan, spermanya tertumpah bagaikan air bah di mulut Sharon, cairan itu meluap keluar mulutnya membasahi bibir dan meleleh ke lehernya karena tidak seluruhnya dapat tertampung di mulut. Orc yang mengocok dengan payudaranya juga menyusul tidak lama kemudian, spermanya muncrat di dada dan wajahnya.

Masih belum beres dia mengatur nafasnya, mulutnya sudah diisi lagi dengan penis orc yang tadi dikocok dengan tangannya. Sementara orc yang tadi menjilati vaginanya kini sudah mengaduk-aduk liang itu dengan penisnya. Tak lama orc itu menghentikan genjotannya, dia mencabut penisnya dan segera menyemprotkan spermanya ke perut Sharon. Kelima orc itu pun akhirnya menyelesaikan hasratnya, mereka berejakulasi di luar maupun di dalam tubuh Sharon. Jenderal orc itu mendekati tubuh Sharon yang sudah lemas dan basah baik oleh sperma, keringat, maupun liur. Diangkatnya kepalanya lalu berkata di dekat wajahnya.

"Bagaimana manis, kau sudah mulai menikmatinya kan? Ayolah, asal kau mau jadi selirku tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu lagi"
"Baiklah, aku akan mengatakan satu hal padamu" kata Sharon dengan nafas masih terengah-engah.
"Hehehe.. baiklah sayang, tentunya kau ingin mengakhiri ini semua kan, coba katakan saja padaku"
"Pergilah ke neraka, bangsat!" teriaknya di depan wajah jenderal orc itu.
"Ooo.. kau sungguh mengecewakanku manis" kata jenderal orc itu sambil geleng-geleng kepala.
"Hei, anak-anak, sepertinya dia kurang puas, coba puaskan dia sampai tidak bisa bangun lagi!"
Kembali Sharon mengalami siksaan birahi itu. Belasan orc itu memperkosanya secara bergilir, sekali maju bisa mencapai 3 sampai 6 orang. Kali ini Sharon sudah tidak berontak sedikitpun, kesadarannya sedikit hilang, dia hanya mengikuti saja diperlakukan apapun oleh makhluk-makhluk itu, matanya menatap kosong ke langit yang sudah menguning.

Sperma mereka berceceran di sekujur tubuhnya, pangkal pahanya banjir oleh sperma yang telah bercampur cairan cintanya yang tidak dapat tertampung lagi di tempatnya. Berbagai gaya telah dipraktekkan mereka terhadap Sharon dan berkali-kali dia mencapai klimaks. Dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, namun dia juga tidak dapat menyangkal rasa nikmat luar biasa yang belum pernah dialami sebelumnya, bahkan ketika bercinta dengan Astral, pujaan hatinya sekalipun. Setelah semua orc itu mendapat jatahnya, nafsu si jenderal orc timbul lagi, diperintahkannya untuk menyiram tubuh Sharon yang telah basah dan lengket oleh macam-macam cairan itu dengan air.

Guyuran air itu membuatnya merasa lebih segar, tapi itu bukan akhir dari penderitaannya karena jenderal orc itu langsung menaikkan tubuhnya ke pangkuannya dan menekan tubuhnya ke arah penisnya hingga benda itu amblas ke dalam vaginanya. Cairan yang sudah membasahi vaginanya membuat penis itu bergerak makin leluasa. Matanya merem-melek, pinggulnya ikut meliuk-liuk menahan genjotan di bawahnya, kedua payudaranya yang berayun-ayun dijilati oleh jenderal orc itu. Sensasi yang luar biasa membuatnya tidak terkendali, sekali waktu ketika tangannya sedang menggapai-gapai lalu mencengkram rumput dibawahnya, dia merasakan memegang suatu benda panjang seperti dahan kayu.

Dengan ekor matanya dia melihat ke bawah, ternyata yang dia pegang itu adalah anak panah yang tadi menghantam pedangnya hingga jatuh dan tak jauh dari sana juga dia melihat senjatanya masih tergeletak di tempat asal. Rupanya tanpa di sadari sejak diperkosa tadi tubuhnya telah berpindah-pindah kesana-kemari. Orc-orc yang telah kesetanan itu juga tidak memperhatikan anak panah di antara rerumputan itu dan ini adalah suatu kesalahan yang fatal bagi mereka. Dengan senjata di tangannya, Sharon merasa mendapatkan tenaganya kembali. Maka sambil menunggu kesempatan baik, dia mendapat akal membuat orc itu orgasme sehingga tenaganya melemah. Sharon menggoyangkan pantatnya makin cepat, dia juga melumat mulut orc itu dan memainkan lidahnya selama beberapa menit dengan harapan mempercepat orgasmenya.

Usahanya membuahkan hasil, dengusan nafas orc itu makin cepat dan semakin memacu gerak pinggulnya sambil mencengkram pantat Sharon. Akhirnya dia menggeram panjang, tubuhnya mengejang dengan mata terbelakak, spermanya kembali menyemprot deras di dalam rahimnya.
"Wah, hebat juga gayamu tadi manis, jadi sekarang kau sudah bersedia menyerah padaku ya"
Jenderal orc itu merasa geli ketika Sharon menjilati lehernya.
Ketika sampai di telinga Sharon berbisik padanya, "Sampai jumpa di neraka!"
Jenderal orc itu spontan terkejut, tapi sebelum sempat menyadari semuanya tiba-tiba sebatang anak panah sudah menancap di pelipisnya diiringi jeritan panjang seperti serigala terluka. Tubuhnya menggelepar-gelepar di tanah memegangi kepalanya.

Tanpa buang waktu lagi Sharon segera melepaskan diri dari dekapannya dan menyambar pedangnya yang tidak jauh dari situ. Secepat kilat pedang ditikamkannya pedang itu pada dada musuhnya, dengan satu jeritan panjang makhluk itu melepas jiwanya. Anak buahnya yang masih kecapaian terkejut dengan kejadian yang tidak pernah mereka duga itu. Dengan pedang ditangannya, Sharon ibarat ikan mendapatkan air, kekuatannya seperti pulih lagi. Tiga orc yang merangsek ke arahnya segera ambruk seiring dengan tebasan pedangnya. Lainnya segera memungut senjata masing-masing dan menyerbu ke arahnya, dentingan senjata beradu terdengar kembali.

Prajurit-prajurit kroco seperti ini bukanlah tandingan Sharon, maka dalam waktu kurang dari 10 menit saja mayat-mayat orc sudah bergelimpangan. Sasaran Sharon berikutnya adalah orc yang barusan memanahnya, tanpa mendapat banyak perlawanan berarti, dia berhasil menebas tubuh lawannya itu hingga terbelah dari baru sampai ke pinggang. Tinggal satu orc lagi yang tersisa, dia sudah mundur-mundur dengan posisi telentang di tanah memohon-mohon ampun pada Sharon yang menempelkan ujung pedangnya pada lehernya, dia masih belum sempat bercelana, penisnya sudah tidak setegak tadi lagi karena sekarang sedang dirundung ketakutan yang amat besar. Tatapan tajam gadis itu membuat makhluk itu tidak berani menatap wajahnya.

"Ampun.. ampun, tolong kasihani saya.. aah..!" makhluk itu menjerit sambil menyilangkan tangan menutupi wajahnya ketika Sharon mengibaskan pedangnya.
Suara mengerang kesakitan terdengar nyaring. Makhluk itu membuka kembali matanya dia tidak mati, tapi betapa kagetnya melihat bagian bawahnya yang sudah berlumuran darah. Ternyata kemaluannya telah ditebas oleh pedang sehingga kini dia nampak kesakitan memegangi pangkal pahanya yang sudah dikebiri itu.
"Hei, dengar ya.. sekarang kamu pergi dan katakan pada rajamu bahwa sebentar lagi pasukan kami akan menembus perbatasan kalian dan membuatnya seperti ini, dan sebelum saya berubah pikiran sebaiknya kamu pergi cepat!" bentak Sharon.
Makhluk itu pun pergi dengan tertatih-tatih dengan memegangi selangkangannya.

Sekarang tinggal Sharon sendirian di hutan itu, hari mulai gelap. Dia membersihan tubuhnya yang penuh bercak darah dari pertarungan tadi dan memunguti apa saja untuk menutupi tubuh bugilnya. Dengan pedangnya dia memenggal kepala jenderal orc itu dan segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke markas tentara Shadow dengan membawa kepala jenderal orc itu. Sharon kembali ke perkemahan dengan disambut layaknya pahlawan, tentunya dengan pengorbanan yang sangat besar termasuk harus mengalami penghinaan berupa pemerkosaan massal seperti yang baru saja dialaminya.

Tamat




Words worth attack of the orcish horde - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah peperangan panjang antara kerajaan Shadow dan Light, akhirnya seluruh kepingan dari prasasti Words Worth berhasil disatukan. Kedua kerajaan pun akhirnya hidup damai berdampingan, namun kedamaian itu sedikit terusik oleh ancaman baru terhadap kerajaan Shadow. Kaum orc yang hidup dekat perbatasan Shadow sering mengganggu keamanan wilayah itu, mereka merampok, membunuh, dan memperkosa gadis-gadis disekitar sana. Untuk menumpas kaum orc, Astral yang telah menjadi raja di kerajaan Shadow mengirim pasukan besar ke perbatasan yang dipimpin langsung oleh kekasihnya, Jenderal Sharon. Dibawah pimpinannya pasukan Shadow berhasil merebut beberapa wilayah yang jatuh ke tangan orc serta membunuh beberapa panglimanya. Menghadapi ksatria wanita yang tangguh dan cerdas itu kaum orc mulai menyusun siasat untuk dapat menjebak dan mengalahkannya.

Hari itu, kedua pasukan bertemu dan bertempur di sebuah tanah lapang yang luas. Pasukan kavaleri Shadow dapat mengungguli pasukan orc. Jenderal Sharon nampak anggun dan berwibawa diatas kudanya, tangannya yang berpedang dikibaskan kesana-kemari membantai para orc itu, entah sudah berapa banyak kepala orc yang jatuh ke tanah akibat tebasannya. Melihat prajurit dan perwiranya berjatuhan, jendral orc yang berbadan besar dan berkulit hijau itu memerintahkan mundur. Sharon yang ingin meringkus panglima tertinggi orc itu memerintahkan pengejaran yang dipimpin langsung olehnya. Dia berada pada baris paling depan, jubah dan rambut emasnya yang panjang hingga sepinggang melambai-lambai diatas punggung kuda yang berlari kencang itu, matanya memancarkan keberanian dan tekad yang kuat.

Mereka mengejar semakin jauh ke dalam sebuah hutan yang rimbun. Sharon mulai merasakan sesuatu yang tidak beres karena tempat itu begitu sepi, insting militernya mengatakan bahwa ada jebakan yang menantinya. Benar saja, begitu dia memerintahkan mundur pasukannya, serempak terdengar seruan "Serbuu..!" yang memenuhi hutan yang tadinya sepi tadi, disusul hujan panah dan bermunculannya pasukan orc dari semak-semak dan atas pohon. Mayat-mayat pasukan Shadow bergelimpangan dengan tubuh penuh anak panah, Sharon sendiri berjuang keras menangkis setiap anak panah dengan pedangnya, sebuah panah menyerempet lengannya yang tidak terlindung baju zirah sehingga berdarah. Setelah hujan panah mereda mereka masih harus menghadapi sergapan orc yang menyerang dari semak dan pohon. Pasukan kaveleri tidak dapat bergerak leluasa dalam hutan yang lebat, akibatnya pasukan yang berkekuatan 200-an orang itu nyaris seluruhnya tersapu bersih.

"Lari jenderal.. kami akan mengawalmu!" seru seorang pengawalnya.
Dengan 4 orang pengawal pribadi, Sharon menerobos kekacauan itu untuk meloloskan diri. Di sebuah lintasan mereka dihadang oleh sepasukan kecil yang dipimpin oleh jenderal orc yang tadi pura-pura mundur.
"Hua-ha-ha.. sekarang rasakan pembalasanku, serbu..!" serunya sambil mengacungkan gadanya pada mereka.
Pertempuran yang tidak seimbang pun dimulai, jenderal orc, tanpa kesulitan berarti menghabisi keempat pengawal Sharon dengan gada bajanya. Kini kedua jenderal yang berseteru itu saling berhadapan, bunyi denting pedang beradu dengan gada baja terdengar nyaring.
"Hebat juga kau jenderal cantik, kau lebih cocok jadi peliharaanku daripada jadi jenderal!" ejek orc itu di sela pertarungan, matanya yang lebar itu jelalatan menatapi tubuh Sharon yang indah, seolah menelanjanginya.
"Makhluk menjijikkan, kubunuh kau hari ini demi negeriku!" seru Sharon dengan penuh amarah.
"Ayolah manis, aku sudah tak sabar ingin bermain cinta denganmu".
"Biaya untuk bermain cinta denganku terlalu mahal untukmu!" serunya sambil menerjang dengan teknik pedang yang luar biasa.

Serangan Sharon yang dahsyat dan membabi-buta membuat orc itu kewalahan. Dia mundur-mundur sambil susah payah menahan serangan. Dalam satu kesempatan akhirnya Sharon berhasil menjatuhkan gada itu dari pemiliknya dan membuat orc itu terpelanting. Namun begitu dia mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala musuhnya, tiba-tiba "Traangg..!" sebutir panah tepat mengenai gagang pedang dan hampir mengenai tangannya. Spontan, Sharon pun terkejut dan pedangnya jatuh. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik itu, si jenderal orc itu langsung menghantam perut Sharon dengan kepalannya yang besar sehingga dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi perutnya lalu dengan bahunya yang dilapisi pelindung diseruduknya gadis itu sampai mental beberapa meter dan jatuh. Sharon meringis kesakitan, nampak darah menetes di pinggir bibirnya.

Jenderal orc itu mendekati lawannya yang sudah terkapar, dilihatnya celana dalamnya yang putih dan paha mulusnya melalui rok mininya yang tersingkap. Orc-orc lainnya ikut mengerubungi dirinya, mereka menatapnya dengan sorot mata lapar.
"Kalau mau bunuh.. bunuh saja sekarang atau kelak kau akan menyesal, dasar pengecut tidak tahu malu!"
"He-he-he.. terlalu sayang untuk membunuh gadis secantik kamu, gadis sombong. Aku ingin kau merasakan nikmatnya kontol orc" seringainya mesum disusul gelak tawa orc lainnya.
Ketika jenderal orc itu dengan tangan besarnya orc itu membelai wajah cantik Sharon, tiba-tiba 'Plak! ' dengan sisa-sisa tenaganya, Sharon menampar wajah makhluk itu. Melihat hal itu, dua anak buahnya maju memegangi lengan Sharon, dia meronta-ronta dan menendang-nendangkan kakinya, tapi itu malah membuat celana dalam dan pahanya makin terlihat saja sehingga nafsu mereka makin naik.

Dengan mudahnya jenderal orc itu menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu dibentangkannya lebar-lebar.
"Wahaha.. celana dalamnya putih" para orc itu bicara kasak-kusuk melihatnya.
"Heh.. memangnya semahal apa harga untuk bermain denganmu, jenderal pelacur!" ejeknya sambil menjambak rambut panjang keemasan itu.
Orc itu mengeluarkan lidah panjangnya dan menjilati pipinya yang mulus, ekspresi wajahnya menunjukkan rasa jijik membayangkan dirinya akan segera diperkosa oleh makhluk setengah binatang. Seorang orc membuka kancing baju zirah dan jubahnya. Begitu baju zirah pelindung atasnya terlepas para orc itu langsung menggerayangi payudaranya yang masih tertutup oleh baju biasa.

"Aahh.. tidak!" jeritnya ketika dirasakannya elusan jenderal orc itu merambat dari pahanya menuju ke kemaluannya.
Dia menekan-nekan jarinya yang besar di sana. Orc yang memegangi lengan kanan Sharon mempreteli satu demi satu kancing bajunya, setelah terbuka semua dibetotnya bra putih dibaliknya hingga robek. Belasan orc lainnya termasuk si jenderal orc melotot memandangi buah dada Sharon yang montok dengan putingnya yang merah muda. Salah satu orc langsung melumat payudara kanannya, diremas dan disedot-sedot, sedangkan payudara kirinya dicengkram kuat oleh si jenderal orc sampai putingnya makin mencuat.
"Nah.. sekarang tau kan akibatnya kalau melawan kami, pelacur Shadow!" jenderal orc itu menyelesaikan kata-katanya dengan meremas lebih kuat dan memelintir payudara Sharon.
Jerit kesakitannya membuat nafsu para orc itu makin terbakar saja, si jenderal orc saking nafsunya sampai mencucukkan jarinya lebih dalam lagi sehingga celana dalam Sharon robek di bagian tengahnya.

Sesudah melubangi celana dalamnya, jenderal orc itu lalu menggerakan jarinya leluar masuk di liang itu seperti menyetubuhinya, sementara mulutnya terus menjilati puting yang sudah mengeras itu.
"Ooohh.. tidak.. jangan!" jeritnya sambil menggeliat-geliat.
Dia berusaha keras untuk tidak menikmatinya, tapi sepertinya syaraf-syaraf di tubuhnya lebih mendominasi, dia tidak dapat menahan rangsangan yang demikian hebatnya dari titik-titik sensitifnya yang dikerjai mereka. Orc di samping kirinya menyibak rambutnya, lalu lidahnya menyapu leher hingga ke telinganya. Orc yang di kanannya daritadi masih saja menikmati payudaranya sampai meninggalkan bekas merah karena kebanyakan dicupang. Selama 10 menit si jenderal orc mengorek-ngorek vagina Sharon, akhirnya dia merasa tubuhnya menegang disusul dengan mengucurnya cairan cinta dari kemaluannya.

Jendral orc itu mencabut jarinya, tanpa rasa jijik dia jilati cairan yang belepotan di jarinya itu.
"Nyamm.. wanita Shadow memang enak rasanya, pasti itunya lebih enak lagi, angkat dia!" perintahnya.
Anak buahnya segera mengangkat tubuh Sharon dengan kedua paha terkangkang. Jendral orc itu menurunkan celananya, benda yang dibaliknya sungguh membuat bergidik, sebatang penis sebesar belati komando yang berwarna kehijauan dengan bintil-bintil dan urat yang menonjol. Sharon sendiri sampai menelan ludah melihatnya, membayangkan benda mengerikan itu akan segera mengoyak-ngoyak vaginanya.

"Nah sayang, sekarang kamu akan merasakan keperkasaan kaum orc!" katanya sambil menarik robek celana dalam Sharon.
Para orc itu kembali berdecak kagum melihat kemaluan Sharon yang ditumbuhi bulu-bulu yang juga pirang seperti rambutnya, belahannya masih rapat karena dia baru melakukannya hanya dengan kekasihnya Astral, tengahnya yang merah merekah seolah menunggu untuk ditusuk. Tidak satupun dari kemaluan mereka yang tidak bangkit. Jenderal orc itu mulai membuka bibir vagina Sharon dan tangan satunya membimbing penisnya memasuki liang itu.
"Jangan.. jangan, bunuh saja aku bangsat! Aahh.. oohh.. akkhh!" Sharon terus memaki-maki di tengah rintih kesakitannya, namun jeritan dan rontaannya hanya menambah nafsu mereka saja.

Dia meringis kesakitan disertai mengucurnya keringat saat penis itu menghujam ke dalam vaginanya. Walaupun kemaluannya sudah basah oleh cairan cinta, tapi jenderal orc itu masih kesulitan memasukkan penis supernya itu. Sharon diperkosa secara brutal oleh jenderal orc itu, penis hijau itu menyodok-nyodok dengan ganasnya. Sambil menggenjot jenderal orc itu melumat payudara kanannya, tangan satunya meremasi bongkahan pantatnya yang montok. Orc-orc lain yang menopang tubuhnya pun ikut ambil bagian menggerayangi tubuhnya. Ada yang mengelus paha mulusnya, ada yang melumat payudara lainnya, menjilati lehernya, orc yang menopang dari belakang menarik rambut panjangnya sehingga wajahnya tengadah ke belakang, lalu dilumatnya bibir mungil yang ranum itu. Lidah panjang itu bergerak liar menjilati lidahnya seakan mengajak lidahnya ikut bermain sehingga secara refleks lidah Sharon ikut meronta.

Walaupun terus meronta, namun Sharon mulai merasakan kenikmatan menjalari tubuhnya, rasa nyeri yang dideritanya kini mulai bercampur dengan rasa nikmat. Perlahan pemberontakannya mulai mereda, walau berusaha sekuat tenaga untuk tidak menikmatinya, tubuhnya tidak bisa berbohong. Tubuhnya menggelinjang hebat disertai suara desahan panjang setelah 15 menit diperlakukan seperti itu.
"Hmm.. kau mulai merasa enaknya bercinta dengan orc kan, hai pelacur Shadow!" seringai jenderal orc itu.
"OK, anak-anak minggir semua, sekarang saya akan mementaskan pertunjukan orc menunggangi manusia"
Anak buahnya menurunkan Sharon yang sudah lemas setelah orgasme panjang barusan, lalu mereka menyingkir membiarkan pimpinannya mengerjai musuh yang telah dikalahkan itu.

Sambil menarik rambut Sharon, jenderal orc itu meraih vaginanya dari belakang, membuat posisinya menungging. Kemudian dia kembali menyodok vaginanya, sodokan itu makin lama semakin cepat sehingga gadis itu tak kuasa menahan jeritannya dan mengucurkan air mata. Dengan tangan besarnya orc itu menangkap salah satu payudara yang berayun-ayun itu. Anak buahnya yang menonton adegan perkosaan itu matanya tidak berkedip, mereka gelisah tak sabar menanti giliran, beberapa diantaranya terlihat mengocok-ngocok penisnya sendiri. Pesta seperti ini bukanlah hal yang asing bagi mereka, beberapa waktu yang lalu mereka berhasil menjebak sekumpulan ksatria wanita dan mereka perkosa beramai-ramai, lalu mereka bawa ke negerinya sebagai budak seks.

Beberapa saat kemudian jenderal orc itu tampak akan berejakulasi, genjotannya makin kencang sambil mengeluarkan geraman. Sharon merasakan bagian bawahnya banjir, orc itu memuncratkan cairan putih kental dengan derasnya sampai belepotan di selangakangan gadis itu.
"Hehehe.. gadis manusia memang benar-benar enak, apalagi yang satu ini!" orc itu melepas penisnya.
Penderitaan Sharon belum lagi selesai, jenderal orc itu memberi kehormatan pada si pemanah yang menyelamatkannya untuk mendapat giliran berikut. Orc itu merenggut rambut Sharon dan memerintahkannya membuka mulut.

Bersambung . . . .




Warisan leluhur - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Lalu ia membuka celanaku dan menelanjangiku. Ia sendiri juga membuka celana jeansnya dan terlihat celana dalam yang tipis dan kecil berwarna pink. Penisku bertambah berdiri dan dipegang olehnya.

"Wah kecil sekali, aku mau lihat yang lebih besar".

Lalu ia membuka bajunya dan kutangnya. Lalu ia merangkulku dan kedua payudara montoknya menempel didadaku. Aku merasa hangat dan nikmat karena aku belum pernah melakukan seks sebelumnya, dan seks pertamaku langsung dengan wanita bule ini. Penisku berdiri dan melebar.

"Nah begitu dong" katanya.

Ia lalu mengulum dan menjilati penisku. Aku merasa nikmat sekali dan memegang rambut panjangnya. Setelah itu aku berbaring dan ia merangkak ke depanku. Payudaranya yang besar menyentuh wajahku dan langsung saja kujilati dan kukunyah. Setelah 20 menit ia berbalik badan dan duduk didadaku. Pantatnya menghadap wajahku, lalu ia membuka celana dalamnya secara pelan-pelan. Penisku langsung bertambah besar.

"Yeah, I know you like it" katanya.

Setelah celana dalamnya dilepaskan ia langsung mengangkat pantatnya dan duduk diwajahku. Vaginanya licin karena ia sering memotong bulu vaginanya sampai ludes. Aku menjilati vagina dan lubang pantatnya tanpa henti. Setelah lama kemudian ia mengalami kejang dan vaginanya terbuka lebar seperti pintu bendungan, dan air ovumnya pun mengalir deras ke dalam mulutku lalu kuhisap dan kutelan semuanya. Setelah itu ia membalikan badannya dan duduk diselangkaanku. Ia lalu memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan bergerak liar bagaikan menunggang kuda liar di texas. Penisku terpijat dan tertarik kesana kemari.

Kami mendesah keras, "Ah.. Ah.. Uh.. Uh.."

Ia lalu memerintahkan agar aku ikut bergoyang agar percumbuan itu terasa lebih nikmat. Aku pun menggoyangkan pantat ku dan kedua tanganku memeras payudara montoknya. Ia lalu bergerak lebih liar lagi dan menamparku berulang-ulang.

"Come on, Why are you so weak? You can do it better."

Akhirnya aku mencapai tahap orgasme dan spermaku muncrat semuanya. Ia lalu menjilati dan menghisap semua spermaku. Setelah itu pipiku semua merah akibat tamparan sadisnya.

Kemudian kami memakai baju dan ia merangkak keluar dari tenda. Tiba-tiba terdengarlah suara tepuk tangan dan sorak sorai dari luar tenda. Ternyata semua timku menyaksikan bayangan ku dan Kelly dalam bercinta. Kelly pun bersorak, "Hore.. Yey.." lalu ia menarikku keluar, namun aku enggan karena malu. Akhirnya setelah lama aku pun keluar dan semua orang bersorak padaku. Aku menjadi malu dan mukaku semua merah. Aku hanya bisa tersenyum saja, dan semua timku tertawa melihat gayaku. Lalu kami semua kembali tidur untuk perjalanan di esok hari.

Beberapa jam kemudian aku dibangunkan oleh John, atasanku. Aku melihat langit masih gelap, namun John berkata bahwa hari sudah pagi. Ternyata aku lupa kalau kami berada didalam goa. Jam alarm John berbunyi mempertandakan hari sudah jam 8 pagi. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan sampai jam 8 malam. Tiba-tiba Tom menginjak sebuah tulang, lalu kami meneliti tulang tengkorak itu, dan terlihatlah bendera dan perlengkapan baju besi dari kerajaan Manchuria di China. Ternyata pada jaman dulu raja Manchuria dari China mengetahui rahasia Raden Wijaya dari Majapahit sehingga menugaskan tentaranya untuk merampas harta itu. Namun malang dan semua tentara terbunuh.

Kelly yang memiliki pengetahuan kedokteran meneliti tulang-tulang itu dan terlihat tulang berwarna unggu disetiap tentara yang berarti mereka semua keracunan. Tiba-tiba terdengar suara aneh ke arah mereka dari belakang. Saat disenter terlihat ratusan kalajenking berwarna biru kehijauan menyerbu ke arah kami dengan sangat cepat. Timku langsung lari terbirit-birit namun badan Tom kegendutan sehingga ia tidak bisa berlari cepat dan menjadi target utama.

Dalam sekejap badan dia diselimuti kalajengking. Ia lalu memerintah kami untuk kabur dan ia menyalakan semua dinamitnya sekaligus. Lalu terjadilah ledakan besar dan meruntuhkan dinding goa. Dinding goa itu runtuh semua dan memblokir jalan kita untuk kembali, namun hal itu ada baiknya juga karena kalajengking beracun itu juga tidak bisa lewat. Maka kami meneruskan perjalanan dan menghargai keberanian Tom. Lalu kami berjalan beberapa jam dan mendirikan tenda untuk beristirahat.

Pada malam harinya setelah kami merasa kenyang dan tidur, aku berjalan keluar tenda sendirian untuk kencing. Setelah selesai kencing aku melihat sebuah sinar dari balik batu, maka aku pergi kesana dan mengintip. Terlihatlah Kelly dan Nataly melakukan seks. Ternyata mereka juga sanggup melakukan lesbian. Saat aku ke mengintip mereka berdua sudah telanjang semua. Terlihat Nataly sedang menjilati vagina dan pantat Kelly. Mereka melakukan posisi 69. Kelly juga menjilat vagina dan pantat Nataly dengan tidak kalah ganasnya. Setelah agak lama melakukan hal itu.

Mereka langsung duduk dan saling berhadapan. Lalu mereka saling memeluk dan berciuman secara ganas. Dada mereka berdua saling beradu dan bergesek. Setelah hal itu dilakukan selama setengah jam lalu Kelly tiduran dilantai dan Nataly menduduki vaginanya. Lalu vagina Nataly digesek-gesekan ke vagina Kelly, dan mereka berdua mendesah keras. Lalu Nataly merangkak ke depan dan mengesek-gesekan payudaranya ke payudara Kelly. Kedua wanita itu saling mengesek-gesekan payudara dan vagina mereka ke lawannya masing-masing. Aku tidak tahan lagi melihat hal itu dan terselip jatuh dari atas batu.

Mereka berdua kaget dan mempelototiku, setelah itu mereka saling berpandangan dan tersenyum. Setelah itu mereka lalu berjalan ke arahku dan menelanjangiku. Kelly langsung menciumku dan lidahnya mengaduk-aduk lidahku. Sedangkan Nataly menjilati penisku tanpa ampun. Dada Kelly menempel erat didadaku. Setelah itu Nataly bangun dan duduk diwajahku. Aku lalu menjilati vaginanya yang sudah basah itu. Kelly langsung mencumbui penisku dan mereka berdua duduk diatas badanku yang terbaring dilantai. Setelah itu Mereka berdua bangun dan ganti posisi. Pantat Nataly dinunggingkan dan penisku masuk mencumbui pantatnya. Kelly tiduran terlentang di punggung Nataly dan menyodorkan pantatnya agar kujilat.

Setelah 20 menit Kelly bangun dari punggung Nataly, dan giliranku yang tiduran dipunggungnya. Lalu aku meremas payudara Nataly. Penisku masih mencumbui pantat Nataly. Kepala Nataly-pun dimiringkan setengah ke atas agar kami bisa berciuman. Kelly tidur diatas punggungku dan kedua buah payudaranya menempel dipunggungku. Aku benar-benar merasa nikmat karena dipijit seperti roti hamburger. Kami bertiga berdesah keras dan akhirnya mengalami orgasme keras. Spermaku disemprotkan ke dalam pantat Nataly. Setelah itu kami semua berpakaian dan Nataly duduk diatas batu dan merokok.

Tiba-tiba sebuah benda tajam besar datang menembus perut Nataly dan mengangkatnya ke atas. Kelly langsung berteriak dan aku menyenter batu itu. Ternyata Nataly duduk diatas seekor kalajengking berukuran raksasa berwarna biru kehijauan. Ternyata itu adalah ratu kalajengking beracun. Nataly pun mati kesakitan. Aku membawa Kelly kabur bersama John dan Sung Yung. Kalajengking itu tidak mengejar kami karena ia sudah mempunyai makanan sendiri. Setelah lama kami berlari akhirnya kami kelelahan dan beristirahat.

Dikeesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dan kali ini kami menemukan sebuah batu dan ada kotak kecil diatasnya. Aku membaca batu bertulisan Sansekerta yang kubawa dan ternyata kami sudah sampai ditempat tujuan. John langsung mengeluarkan pistol dan membunuh Sung.

"Terima kasih sekarang tugas kalian sudah habis".

Ternyata aku baru sadar bahwa John lebih mengetahui rahasia harta itu dari siapapun. Harta itu adalah sebuah keris keramat yang digunakan oleh Raden Wijaya sepanjang hidupnya. Barang siapa yang memiliki keris itu akan menjadi penguasa dan negaranya akan kuat dan hebat. John berusaha untuk memiliki keris itu.

Aku menjadi marah karena aku tidak mau barang warisan dari leluhurku dirampas oleh orang munafik dan serakah. Maka aku melempar batu dan mengenai kepala John. Kelly lari ke arah John dan menusuk perutnya. John kesakitan dan menembaki Kelly tepat dikepalanya. Kelly pun meninggal. Aku langsung menyerang dan mendorong John hingga jatuh, namun badannya yang besar melemparku dan tanpa sengaja aku menabrak tombol batu yang besar didinding. Tiba-tiba langit dinding goa terbuka dan terlihatlah jalan keluar. Aku segera lari ke arah itu dan John melepaskan tembakan. Beberapa saat kemudian John berpaling kebelakang dan terlihatlah kalanjengking raksasa yang kemarin malam. John ketakutan dan tidak bisa kabur. Ia dimakan oleh kalajengking itu. Sedangkan aku berhasil lari. Namun kalajengking itu mengejarku.

Tak lama kemudian aku melihat ada air bah datang dari depan. Kalajengking raksasa itu ketakutan dan kabur. Aku menahan air itu dan berusaha berenang menyelusurinya. Setelah sekian lama aku menemukan jalan keluar, namun aku berada didalam laut. Lalu akupun berenang keluar. Aku berusaha menahan napas dan berenang sekuat tenaga untuk keluar dari air, telingaku sakit sekali dan hampir mengeluarkan darah. Aku berusaha memejam mataku dan berenang terus-terusan ke atas. Akhirnya aku muncul dipelabuhan dan para nelayan memarahiku karena ikan mereka semua kabur karenaku.

Aku lalu naik ke atas dan berdiri. Terlihat tulisan besar perkampungan Nelayan di depanku. Lalu aku melihat ke sebelah kanan, dan dari jauh ada gerbang besar bertulisan, 'Selamat datang di Pantai indah Kapuk'. Ternyata aku telah kembali berada di Jakarta Utara. Lalu aku mengeringkan badanku dan naik bajaj pulang ke rumah. Beberapa tetangga menanyaiku,

"Pergi kemana selama beberapa hari ini? Enak enggak pergi sama wanita bule?"

Aku baru sadar kalau tidak ada orang yang tahu apa yang terjadi. Aku lalu kembali ke kamarku dan melamun. Aku hampir tidak percaya pengalaman yang ke alami. Namun aku akan merahasiakan hal ini agar warisan leluhurku tidak jatuh ke tangan yang salah. Tetangga dan teman-temanku boleh melecehkanku namun mereka juga tidak akan percaya kalau aku baru saja menyelamatkan warisan nenek moyang kita dari tangan orang asing. Dalam hati aku kagum pada nenek moyang kita yang membangun jalan rahasia itu dari candi borobudur sampai ke pelabuhan Tanjung Priok.

Tamat




Warisan leluhur - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Pada abad pertengahan di tanah Jawa, terlihatlah berpuluh-puluh tentara Manchuria dari kerajaan Qing (nama kerajaan di China). Mereka membawa obor dan masuk ke dalam sebuah goa. Setelah lama berjalan didalam goa mereka mendengar suara aneh, lalu mereka semua mengeluarkan pedang mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah sinar besar yang menyilaukan mata. Mereka lalu berteriak kesakitan dan terbantai tanpa mengetahui apa yang terjadi.

*****

Beberapa ratus tahun kemudian, didataran Mongolia, terlihat sebuah desa. Desa itu dikelilingi oleh padang gurun. Beberapa kilometer dari desa itu terlihat beberapa truk dan beberapa orang asing menggali tanah didaerah itu. Salah seorang dari mereka berteriak,

"Berhasil!! Kita menemukannya"

Semua orang langsung berlari ke arahnya dan menemukan sebuah batu kuno berukiran bahasa Mongolia kuno. Seorang wanita asal Prancis memberikan pria itu sebuah kunci berbentuk kotak dan pria itu memasukan kunci itu ke lobang dari ukiran di batu itu. Tiba-tiba tanah disekitar pria itu terbuka dan ia sendiri jatuh ke dalam tanah. Wanita itu langsung mengeluarkan teleponnya dan menghubungi seseorang, lalu ia pun loncat masuk ke dalam lubang itu. Dengan berbekal lampu senter beberapa orang asing lainnya pun ikut masuk.

Ternyata di dalam tanah itu terbangun sebuah bangunan besar seperti makam untuk raja atau bangsawan. Mereka akhirnya menelusuri lubang itu. Setelah setengah jam berjalan mereka menemukan sebuah peti mati. Seorang pria gendut berasal dari Amerika langsung melempar dinamit dan meledakan peti mati kuno itu. Tengkorak dari peti mati berceceran keluar. Tak lama kemudian terlihatlah peti kecil didalam peti mati itu.

Seorang pria tinggi dan kekar asal Amerika memerintah agar bawahannya mengambil peti itu. Beberapa bawahannya menyentuh peti itu dan tiba-tiba ratusan anak panah melesat keluar dari dindng dan membunuh mereka semua. Setelah anak panah itu habis pria tinggi itu membuka peti itu dan tampaklah sebuah gulungan kertas kuno. Ia lalu mengambil kertas itu dan segera keluar dari lubang itu bersama bawahan lainnya. Sesampainya ia diatas, terlihat ratusan warga membawa kapak dan cangkul menyerangnya.

"Kami tidak akan membiarkan barang pusaka kami dirampas oleh orang asing sepertimu".

Warga asing itu langsung kabur. Beberapa lama kemudian datanglah helikopter dan menjemput pria tinggi dan wanita Prancis itu. Sedangkan semua bawahan lainnya mati terbunuh.

Kejadian itu tersebar dimana-mana dari televisi hingga ke radio dan polisi tidak sanggup melacak siapa dan dimana pria itu. Begitu mendengar berita di televisi, aku menutup televisi dan pergi mandi. Namaku adalah Adi Santoso. Aku adalah sejarahwan yang mempelajari bahasa kuno seperti bahasa Sansekerta. Aku bekerja di musium Fatahillah di Jakarta. Gajiku kecil dan pekerjaanku hanyalah sebagai satpam. Pihak musium tidak memerlukan penterjemah bahasa kuno.

Pada suatu malam aku pulang kerumah tiba-tiba terlihat seorang wanita bule berdiri di depan pintu rumahku. Tetanggaku semua tersenyum dan saling berbisik-bisik. Aku pun turun dari bajaj dan berkata kepada wanita itu.

"Sorry, I don't need hooker. Please leave my house".
Lalu wanita itu menamparku, "I'm here for giving you a new job"

Mendengar bahwa ada pekerjaan baru maka hatiku menjadi senang dan berterima kasih serta meminta maaf sebanyak mungkin. Namun cewek bule itu masih marah dan menyuruhku mengikutinya ke dalam mobilnya. Aku tidak peduli gosip apa yang akan dibuat oleh tetanggaku, demi uang aku masuk ke mobil itu dan diantar sampai ke restoran di hotel Borobudur. Saat aku masuk terlihat seorang bule menantiku. Badannya kekar dan terlihat seperti berumur 40-an.

"Hai, namaku John Wolfgang dari Amerika, senang berkenalan denganmu."

Aku jadi kaget karena ia dapat berbicara bahasa Indonesia seperti layaknya saya berbicara. Ia pun berbincang-bincang dan menawarkan aku pekerjaan dengan gaji setengah juta per hari. Aku langsung kaget karena gaji itu jauh lebih besar dari gaji lamaku. Ia lalu mengatakan bahwa ia perlu penerjemah bahasa kuno seperti Sansekerta. Aku langsung kaget darimana ia tahu semua hal itu. Lalu akupun menyetujuinya dan ia menyuruhku untuk langsung ikut dia pergi. Aku tidak diijinkan pulang untuk bersiap-siap. Ia hanya berkata bahwa aku mulai kerja dari malam itu juga.

Aku lalu dibawa ke Ancol dan naik ke sebuah kapal besarnya. Baju, makanan semua telah dipersiapkan untukku. Aku langsung bergabung dengan tim yang telah dipersiapkan. Tim ku terdiri dari lima orang. Aku sendiri, seorang pria gendut asal Amerika bernama Tom yang ahli dalam bahan peledak, seorang pria asal korea bernama Sung Yong yang ahli dalam bagian telekomunikasi, seorang wanita asal rusia ber-rambut jabrik dan dicat putih. Ia bernama Nataly. Dan yang terakhir adalah wanita asal Amerika berketurunan Prancis yang menamparku. Ia adalah supervisor dari tim dan tugasnya adalah mengatur tim. Namanya adalah Kelly.

Akhirnya setelah makan malam kami semua kembali kekamar untuk tidur. Kamarku berada tepat disamping kamar Kelly dan saat aku masuk kamar ia melototiku dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Aku lalu berpikir, "Kerja dengan supervisor yang membenciku, nasibku memang selalu sial".

Lalu aku masuk kekamar dan tidur. Pada pagi berikutnya kapal pun mendarat dan timku mulai bergerak. Saya baru sadar bahwa saya sudah berada di Jawa Timur. Setelah John memberikan surat perjalanan kepada polisi setempat akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kita berjalan sampai ke sebuah hutan. Lalu terlihatlah sebuah candi besar. Lalu kami masuk ke dalam candi itu. Aku menjadi heran karena John hampir tahu semua jalan masuk ke dalam candi.

Setelah beberapa lama ia melihat sebuah obor, lalu ia menuangkan minyak dan menyalakannya. Setelah itu ia mematikan obor itu lalu menyalakannya lagi. Aku menjadi heran apa yang sedang ia lakukan. Setelah ia melakukannya berulang-ulang sebanyak lima kali. Ia mematikan api obor dan memutar obor itu ke bawah. Tiba-tiba dinding rahasia terbuka. Lalu Kelly masuk ke dalam dan mengambil sebuah kotak. Tiba-tiba saat kotak diambil candi itu bergetar dan kami semua lari keluar. Lantai candi itu roboh dan Kelly jatuh ke dalam, namun ia berhasil melempar kotak itu ke Tom dan diselamatkan. Tangan Kelly berusaha memegang erat batu disekitar agar tidak jatuh kebawah lubang, namun gempa yang kuat membuatnya makin terperosot.

Melihat hal itu aku langsung terjun kebawah dan menolongnya. Aku menariknya kuat-kuat ke atas dan berhasil. Pada saat ia naik, tanpa sengaja ia memelukku dan dadanya yang besar montok menekan di dadaku. Otomatis penisku berdiri dan nonjol menyentuh celana jeansnya. Ia merasa sadar dan melihatku. Wajahku langsung berubah merah. Tiba-tiba lantai yang kuinjak roboh dan kami jatuh. Tanganku tanpa sengaja memegang akar tanaman yang kuat. Aku lalu mengendong Kelly dan memanjat akar itu sampai ke atas. Setelah sampai diatas akar tanaman putus dan aku mulai terjatuh bersama Kelly, tapi tiba-tiba tangan John berhasil memegang erat tanganku dan menarik aku dan Kelly ke atas. Kami semua langsung lari dan seluruh Candi itu roboh tenggelam ke dalam tanah.

Lalu John membuka kotak itu dan didalamnya terdapat banyak batu berbentuk persegi panjang dan tipis. Dari batu-batu itu terukir bahasa Sansekerta. Ia lalu menyodorkan batu itu kepadaku. Aku lalu membacanya. Batu itu bertulis bahwa tim kami harus pergi ke Candi Borobudur, maka John tanpa basa-basi memerintah tim kami untuk bergerak ke Borobudur menggunakan jip yang sudah disediakan. Kami pun segera berangkat dan sampai disana hari sudah sore. John lalu menyogok petugas disana agar membiarkan kami masuk. Lalu kami semua masuk ke dalam dan berjalan sampai ke puncak candi.

Lalu aku kembali membaca bahasa Sansekerta dari batu yang kubawa. Dari batu itu tertulis bahwa pintu akan terbuka apabila rambut patung Budha didalam stupa di pegang. John langsung memanjat ke atas stupa besar dan memasukan tangannya ke dalam. Ia berhasil memencet tombol batu dikepala patung dan kemudian sebuah pintu batu terbuka. Lalu kami semua masuk ke dalam dengan seluruh peralatan yang kita bawa. Saat kita masuk pintu batu tertutup kembali. Semakin lama kita masuk semakin besar dan lebar jalan yang kita tempuh.

Beberapa jam kemudian John memerintah kita untuk beristirahat dan membangun kemah. Kami pun membangunnya dan menyiapkan makan malam. Beberapa lampu minyak dan api unggun pun dinyalakan. Kami hampir tidak percaya dengan lubang besar yang dibangun ini. Setelah kami selesai makan malam John menyuruhku membaca lanjutan dari batu kuno itu. Aku membacanya dan ternyata batu itu juga menceritakan kisah jaman Majapahit dimana Raden Wijaya membangun lorong bawah tanah yang besar untuk menyimpan harta dan rahasianya. Batu itu juga menjelaskan bahwa lorong itu sangat panjang dan didirikan selama lebih dari 30 tahun. Semua tim menjadi kaget.

"Sampai kapan kita harus berjalan" tanya Nataly.

Sung Yong pun berkata bahwa gelombang komunikasi terputus karena goa yang dalam ini, sehingga apabila ada bahaya, maka sangatlah tidak mungkin untuk mendapat bantuan dari atas. John berkata bahwa ia tidak akan mundur dan memerintahkan kita untuk beristirahat agar kita bisa melanjutkan perjalanan di esok hari. Maka aku pun masuk ke dalam tendaku. Tak lama kemudian Kelly pun datang dan masuk ke tendaku serta mengagetkanku dari belakang.

"Terima kasih telah menolongku, maaf aku terlalu kasar padamu beberapa hari sebelumnya" katanya.
Aku pun menjawab, "Ah tidak kok, dulu memang kesalahanku".

Lalu kami pun berbincang-bincang dalam tenda.

Lalu ia pun berkata, "Pada saat aku memelukmu, aku merasa penismu berdiri tegang dan menusukku".
Aku menjadi malu dan berkata, "Ah, itu hanya ketidak sengajaan."
Lalu ia merangkak ke depanku dan berkata, "Apakah kau suka padaku".

Aku sedang duduk dan bersender ke belakang tidak bisa berkata apa-apa. Lalu wajah Kelly makin dekat ke wajahku dan melihat mataku.

"Kau mempunyai mata yang indah katanya".

Wajahnya hanya 1 cm di depanku. Lalu dia mencium bibirku dan memelukku. Aku pun merangkulnya dan membalas ciuman hangatnya. Dadanya yang montok menempel di dadaku dan ia berbaring di badanku sambil ciuman. Penisku otomatis menegang dan menonjol menusuk celana jeansnya.

Ia lalu tersenyum dan berkata, "Nah kan, nonjol lagi".

Bersambung . . .




The sad love story

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kamar itu gelap. Sinar bulan tampak menyentuh kisi-kisi jendela kamar kecil itu. Membayangkan silhouette tubuh yang meringkuk di sudut kamar. Rena menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya yang memeluk lutut-lututnya. Bahunya yang bergerak-gerak menandakan bahwa gadis kecil itu sedang menangis. Rena mengangkat kepalanya, mengutuk sinar bulan yang menerpa wajahnya yang ternoda jejak-jejak air mata dalam hatinya. 'Bagaimana aku bisa memaafkan dia..'

"Rene.. ah.. Rene.." mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.

Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.

Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati.
'Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..'
Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.

Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.

Rina mengeraskan suara walkman-nya. Membiarkan lantunan musik kesayangannya memenuhi rongga telinganya. Tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran literatur dihadapannya.
'Ah, aku harus belajar giat supaya cepat lulus.. lalu..'
Matanya memandang ke bingkai foto di atas meja disamping tempat tidurnya. Tangannya mengambil bingkai foto itu, dan bibirnya mencium wajah cowok yang sedang tersenyum kepadanya lewat foto di hadapannya. Cup.. cup.. Rina mencium foto itu berulang-ulang, membayangkan kehangatan cowok itu saat memeluknya, menciumnya, mencumbunya.. belajar.. belajar.. Rina mengingatkan dirinya sendiri sebelum tangannya mulai gatal.

Dua purnama yang lalu.

Cowok yang hanya mengenakan kaus oblong itu terlihat sibuk membersihkan mobilnya. Tangannya menggosok permukaan mobil itu dengan cermat, sesekali menyeka peluh yang keluar dari dahi dan pelipisnya.
'Ah.. panas sekali', umpatnya dalam hati.
Rene meraih selang yang tergolek di sebelah kakinya, bangkit berdiri dan menekan knob penyemprot di tangannya. Dicobanya untuk mengarahkan air itu ke wajahnya, ahh.. segarnya. Dibilasnya mobil itu dengan hati-hati, memastikan semua kotorannya luluh ke jalan. Mendadak telinganya menangkap suara bertubruknya sesuatu. Matanya mencari-cari, sementara tangannya yang memegang selang tetap mengarahkan semprotan air ke mobilnya.

Setengah jam sebelumnya.

"Kaak.. mana.. katanya mau ngajak aku jalan-jalan?", suara gadis ABG itu terdengar manja dan memaksa.
Gadis yang lebih tua berkata dangan malas, "Sekarang? Tanggung nih..".
Remote TV itu masih dalam genggamannya.
"Kaakk..!!" Rena memegang pundak kakaknya, merayu-rayu supaya kakaknya bersedia mengatakan janjinya.

"Iyaa.. udah sono!" Rina tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang manja.
'Yah beginilah', pikirnya, jika hanya punya adik semata wayang, yang sangat kebetulan manja dan pemaksa.

Rina menyusuri jalanan kecil itu melewati rumah-rumah yang terlihat sepi. Adiknya yang duduk di belakang seakan menikmati suasana panas di siang hari itu, sementara kakaknya sesekali mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Rina merasakan sebutir keringat mengenai matanya.. aduh..

Rene melihat seekor kucing lari terpincang-pincang dan menghilang dibalik pagar sebuah rumah. Rene tertawa, bukan pada tingkah gugup kucing itu, tapi pada kedua gadis di seberang jalan yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.

"Makanya kalau jalan hati-hati.."
Rina kaget mendengar suara itu dan menghentikan pertikaiannya dengan adiknya yang masih cemberut.
"Rene.." matanya hampir tak berkedip memandang sosok cowok yang cengar-cengir di hadapannya, yang kemudian membungkuk untuk membantu menegakkan sepeda motornya.

"Reneehh..", Rina menahan desahan nafasnya ketika bibir Rene mengecup mesra bibirnya.
"Ada adikku loh."
"Biar saja, biar cari pacar.. hehehe.. mm..", Rene meneruskan ciumannya, sementara tangannya bergerak meremas-remas payudara Rina.
"Akhh.. Rene!" Rina menyingkirkan telapak tangan Rene dari dadanya, meninggalkan ruang tamu dan Rene yang tertawa-tawa, menghampiri adiknya yang mengomel panjang lebar di luar rumah.

"Nih.. awas.. sakit." Rina mengusapkan kapas yang basah oleh Betadine itu ke luka di lutut adiknya.
Rena mengerutkan alisnya, menahan nyeri dari reaksi Betadine yang menyapu pori-porinya. Rene keluar membawa segelas air.
"Nih, minumnya..". Rena meraih gelas itu dari tangan Rene dan meminumnya, tak sempat melihat tangan Rene yang menyusup masuk ke dalam baju kakaknya, sempat meremas sejenak, sebelum Rina menggerakkan sikutnya.

Rene tersenyum-senyum ketika melihat kakak beradik itu melambaikan tangan kepadanya, sebelum sepeda motor mereka oleng lagi dan kali ini hampir saja naik ke trotoar. Rene masih sempat mendengar erangan si adik yang memaki panjang lebar sebelum sepeda motor itu akhirnya menghilang di kejauhan.

Dua minggu kemudian, di sebuah malam minggu.

"Aduhh..", Rina memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Otot-otot keningnya menegang. Rina dapat merasakan pegangan tangan Rene di bahunya.
"Rina, tahan dong." Rene berkata panik.
"Apotik.. obat.. hhggnn.." Rina mengerang-erang kesakitan.
"Hah? Apotik mana? Obat apa?"
"Rena..", telunjuk Rina mengarah ke ruang tengah.
Rene langsung berlari, mendapati Rena yang sedang tiduran di depan TV.
"Ren, kakakmu kumat tuh..".
Rena langsung berlari dan memegangi perut kakaknya yang masih meringis.
"Duhh.. mana Papa Mama nggak ada, lagi.." nada suaranya terdengar panik.
"Beli.. uang.. di atas meja.." Rina berkata terengah-engah.
Rena langsung berlari ke dapur, mengambil segepok uang yang terletak di atas meja makan.
"Ayo.." Rene mendahului keluar

"Bangsat!" Rene melayangkan tinjunya ke rahang salah seorang anak muda yang berdiri paling dekat dengannya, membuat anak muda itu terjatuh.
Orang banyak segera berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si anak muda menjadi reseh dan ngeloyor pergi sambil membawa teman mereka. Rene tak menghiraukan pertanyaan orang-orang di sekitarnya, memegangi bahu Rena yang terguncang dan membuka pintu mobil.
"Kamu sih, keluar duluan. Makanya.. lain kali.." Rene tidak meneruskan omelannya, merasa iba melihat tangis gadis kecil di sebelahnya.
Rene menghentikan mobilnya.
"Sudah.. jangan nangis lagi. Jelek.", Rene mengulurkan tangannya memegang pundak Rena, dan menekan tubuh gadis kecil itu ke dadanya.
Rena menangis sejadi-jadinya, merasakan ketakutan yang membuka pori-porinya saat tangan-tangan iseng tadi mendadak memegang buah dadanya. Rene membiarkan gadis itu membasahi bajunya, sebelum ingatan tentang Rina memaksanya untuk melepaskan pelukannya dan melajukan mobilnya secepat mungkin.

Seminggu setelahnya.

Rene membelokkan mobilnya dengan gerakan seminimal mungkin, berusaha tidak mengubah posisi kepala Rina yang berada di pangkuannya.
"Ahh.." Rene mendesah saat ujung penisnya masuk semakin dalam ke rongga mulut gadisnya.
Tangan kirinya menindah perseneling ke gigi dua, membiarkan laju mobil tetap stabil. Rena menghisap penis di mulutnya, menikmati rasa anyir dan asin itu bercampur di lidahnya. Dikeluarkannya sejenak penis itu dari mulutnya, memandangi dan menikmati air liurnya yang membasahi batang penis di depan matanya. Bibirnya turun dan mencium ujung penis itu dan kemudian menelannya lagi ke dalam mulutnya.
"Mmmhh.." Rene menikmati gerakan lidah gadisnya yang menyapu kulit batang penisnya dengan gerakan liar.
"Yang..keluar nih.." Rene berkata lirih.
Rina mengulurkan tangannya ke kotak tissue yang ada di jok belakang, mengambil segenggam tissue, menghisap penis Rene sekuat tenaga, mengeluarkannya dari mulutnya, dan menutup bibir penis itu dengan tissue.
"Aarrgghh.." Rene mengerang saat spermanya keluar membasahi tissue yang menutupi ujung penisnya.

Rina tersenyum melihat ekspresi kekasihnya. Rene merasa sakunya bergetar. Diambilnya HP dari sakunya, membiarkan Rina sibuk membersihkan cairan sperma yang tersisa, dengan tissue.. dengan kecupan bibirnya.. dengan lidahnya..

'Sial, jangan sekarang.'

Rene menekan tombol merah di HP-nya.
"Siapa?"
"Ah.. anak-anak, pasti deh ngajak jalan."
"Ya udah, kita pulang saja, aku ngerti kok." Rene tersenyum dan merasakan kancing celananya terpasang kembali.
"Oke.. thanks, love you so much", Rene mengecup bibir Rina dan merasakan sisa-sisa sperma di ujung bibir gadisnya.
"Ada apa?"
"Ngga pa-pa.. aku sedih saja.."
Rene tertawa kecil, "Hahaha.. ada apa sih?"
"Ntar.. ada kakak.." Rena menutup speaker telpon dengan telapak tangannya, menunggu sosok Rina yang bersiul-siul menghilang dari hadapannya.

"Halo?"
"Iya.. ada apa adik kecil?"
"Aku ngga kecil lagi!"
Rene tertawa, matanya menatap ke depan, menghindari sebuah sepeda motor yang melaju kencang.
"Iya deh, adik besar.."
"Ngga mau besar.. tua.." Susah.
"Ada apa sih..?"
"Ngga pa-pa, pingin aja ngobrol ama kamu.."
"Hahahaha.. masih ngga berani keluar?"
Rena merasa wajahnya merona, "Iya.."
"Besok kujemput pulang sekolah?"
"Iya.. eh.. kutunggu loh.. bener ya!"
Rene merasakan ketidak sabaran yang lazim dari seorang gadis ABG, tertawa kecil dan berkata, "Oke, tungguin aja."

Rene tertawa melihat tubuh Rena yang tenggelam dalam baju yang kebesaran itu. Rena mengerang dari balik baju, "Jahat. Masa aku disuruh pakai yang begini.." Rene tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Rena kembali masuk ke dalam kamar pas, dan keluar beberapa saat kemudian sambil cemberut, mengembalikan baju hip-hop itu ke gantungan, tanpa memperdulikan pandangan Mbak penjaga stan yang mencemooh. Rene mengusap kepala Rena dengan buku jarinya. Membiarkan Rena menggelengkan kepalanya dengan sebal. "Makan yuk."

Rene memperhatikan Rena menyantap paha ayam itu dengan penuh perhatian.
'Ah, desahnya dalam hati', ini sudah yang kedua kalinya, tapi getaran ini.. sejenak Rene terngiang sebuah pepatah Jawa 'tresno jalaran soko kulino'.. dan bibirnya tersenyum.
"Apa liat-liat?" Rena menyerang bertanya.
"Ge-er deh.. aku ngeliatin ayammu, kalo ngga abis.." Keduanya tertawa dan menghabiskan makanan mereka.

Seminggu setelah kejadian terakhir.. di tengah hujan lebat..

"Mmmhh.." Rena mengeluh lirih, "Rene.. hh.." Rene mengecup bibir gadis kecil itu dengan perlahan, membiarkan gadis itu mengeluh.
"Rena.. aku sayang kamu.." Tangannya menyingkap baju si gadis, memegang buah dada si gadis yang terasa kencang di telapak tangannya.
"Ahh..", Rena memejamkan matanya, merasakan untuk pertama kalinya disentuh oleh seorang lelaki, seorang lelaki yang menjadi idolanya sejak kejadian di depan apotik tempo hari.
Rene menempelkan bibirnya lebih keras.. menenggelamkan lidahnya ke dalam rongga mulut si gadis kecil.. memaksa lidah si gadis untuk bergerak mengiringinya.
"Mmmhh.." Rena mengeluh lagi saat tangan Rene masuk ke dalam bra-nya, memainkan puting buah dadanya, mengangkat lengannya untuk merangkul leher pahlawannya.
Rene memainkan puting si gadis dengan gerakan yang lembut, menahan gejolak nafsunya sendiri, menundukkan kepalanya, dan mengecup puting itu dengan perlahan, merasakan lengkungan tulang punggung si gadis seiring dengan desahannya.

"Rene.. sudah dong.. ahh.. hh.." Rene menghentikan hisapannya, memandang mata Rena yang mulai berkaca-kaca, mengembalikan bra si gadis ke posisi semula.
Rena membiarkan Rene mengecup bibirnya, menikmati kasih sayangnya yang menggebu, dan memeluk kepala Rene yang tenggelam di dadanya. Kehangatan yang mereka rasakan saat itu membuat kaca mobil mengembun, dan mengingatkan mereka akan seseorang yang dengan sabar menunggu kedatangan McDonalds pesanannya di rumah tanpa curiga.

Dua hari kemudian, di sebuah hotel kelas menengah.

"Ahh.. ah.. Rene.. hh..", Rina mengerang, menggigit bibir bawahnya, merasakan keperihan yang ditimbulkan oleh tekanan penis kekasihnya yang semakin dalam ke kemaluannya.
Rene merasakan nafasnya mulai memburu. Ia mengangkat tubuhnya dan melihat batang penisnya yang sudah setengah tenggelam dalam kemaluan gadisnya, digerak-gerakkannya pinggulnya, menekan penisnya lebih dalam, untuk kemudian menariknya keluar supaya dapat mendengar gadisnya mengerang di bawahnya.
"Ahh.." Rene mengeluh penuh kenikmatan.

Rina mengulurkan tangannya, merangkul leher Rene, menempelkan bibir kekasihnya ke ujung buah dadanya, menggerakkan pinggulnya untuk menikmati penetrasi kekasihnya, sementara rasa perih yang semula dirasakannya perlahan menghilang, berganti dengan kegelian dan kenikmatan yang luar biasa, yang memaksanya mengeluh dan mengerang dalam nafsu yang membara di benaknya.
"Ahh.. Rina.. ah.. hh" Rene merasakan nafsunya yang mulai beranjak ke ubun-ubun.
Pinggulnya bergerak semakin cepat, menggesek dan menusuk kemaluan gadisnya. Rina menjerit tertahan, memeluk dan mencakar punggung Rene, merasakan sedikit sakit saat liang vaginanya menelan seluruh batang penis kekasihnya, gesekan-gesekan itu menambah rasa geli dan nikmat di seluruh tubuhnya.

"Rene.. ahh.. ahh.. hh.." Rene mencabut keluar penisnya, mengeluarkan spermanya yang berwarna kemerahan di atas permukaan perut gadisnya.
Rina mengulurkan tangannya, menggenggam dan meremas batang penis yang menempel di perutnya, menikmati ciuman kelelahan Rene di bibirnya dan dadanya, dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka air matanya.

Awal minggu kedua, purnama kedua, di dalam mobil.

"Trus.. diapain?" Rene tertawa melihat kepolosan gadis kecil ini.
"Nih.. digini'in.."
"Oke." Rene mendesah lirih saat jemari Rena memainkan batang penisnya yang menegang.
Tangannya terjulur meremas buah dada si gadis yang menggantung saat si gadis kembali membungkuk. Rena menikmati desahan pahlawannya, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu bentuk batang penis dalam genggamannya, ujungnya yang kemerahan, uratnya yang menonjol dari kulitnya..
'Ah.. jadi begini wujudnya.' Rina menggerak- gerakkan tangannya sesuai yang dicontohkan Rene kepadanya, sedikit terhanyut oleh sentuhan-sentuhan Rene pada payudaranya.
"Awww.. ihh.." Rena menarik kepalanya ke belakang ketika semburan sperma itu nyaris mengenai wajahnya.
"Ahhkk.. sori.. sori.. maaf.." Rene sempat kikuk setelah sadar dari buaian kenikmatan ejakulasinya.
Menatap mata Rena yang bertanya-tanya, mengambil tissue dari jok belakang, dan menyeka ujung kemaluannya, sedikit geli melihat ceceran sperma yang mengenai permukaan tombol klakson mobilnya.
"Lengket..", Rena bergumam sambil memainkan sperma yang terselip di jemarinya.
Rene tertawa lirih dan membersihkan jemari gadis kecilnya dengan tissue.
"Itu yang namanya sperma..", Rene nyaris terbahak melihat mulut Rena yang meringis dan alisnya yang berkerut.

'Aku sayang kamu gadis polos..', ucapnya dalam hati.

Rena mengamati Rene membersihkan tangannya, dan melihat penis pahlawannya perlahan mengecil.
Tanpa dapat ditahannya, Rena tertawa, "Ihh.. kecil.. cuman segitu rupanya..", Rene tersipu dan bergegas membenahi celananya

Akhir minggu kedua, purnama kedua.

Rena mengeluh panjang lebar. Menunggu di tepian jalan seperti perek bukanlah tipe pekerjaan yang disenanginya. Dilihatnya matahari yang sudah naik tinggi di atas kepalanya. Sial. Dihampirinya box telepon di belakangnya, dan setelah memasukkan koin seratus terakhirnya, jarinya memencet-mencet nomor telepon rumahnya.
'Brengsek', umpatnya dalam hati mendengar suara penjawab telpon, "Disini rumah keluarga Ta..", Rena membanting gagang telpon itu, membiarkan beberapa pasang mata pengunjung warung menatap heran ke arahnya. Rena melangkah ke pinggir trotoar dan melambaikan tangannya.

"Awas.. yah! Jalan melulu.. lupa sama adiknya! Kuberitahu Mama dan Papa kalau sudah pulang!", Rena menggeram dan mengomel selama perjalanan.
Sopir taksi itu menatapnya geli dari balik kaca spion. Rena melengos dan mengalihkan pandangannya keluar jendela

Sementara itu, sepuluh menit setelah Rena menyetop taksi.

"Ahh.. ahh.. ahh.. ahh.." Rene memegang kedua payudara kekasihnya, menciumi punggung kekasihnya yang putih dan mulus.
Pinggulnya bergoyang-goyang ke depan ke belakang dengan irama yang penuh nafsu. Rina mengangkat pinggulnya, merasakan gerakan pinggul Rene yang agresif, menikmati batang penis yang keluar masuk di liang vaginanya.
"Ahh.. ah..", Rene mengerang dan mengeluh penuh kenikmatan, merasakan setiap himpitan liang kemaluan kekasihnya.
Rina merasakan kulit dada kekasihnya menempel di punggungnya, gerakan pinggul Rene semakin cepat, Rene melepaskan pegangannya pada buah dada Rina dan memeluk pinggangnya dengan kencang, merasakan kepalanya yang terangkat dan peluhnya yang mengucur saat menekan penisnya lebih dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya.
"Ahh.. ah.. ah.. ah.. ah..", Rina mengeluh seiring irama pergerakan pinggul Rene.

Rene melepaskan rangkulannya, membiarkan tubuh kekasihnya jatuh menelungkup di pinggir tempat tidur, menggunakan tangannya menarik keluar penisnya dan menyemburkan spermanya ke permukaan pinggul kekasihnya.
"Ahh..", Rene menyeka peluhnya, menindih tubuh Rina yang tertelungkup, membiarkan penisnya menempel di celah pinggul si gadis, dan menciumi belakang kuping dan leher gadisnya yang kelelahan.

"I love you.. honey-bunny.." Rina tertawa lirih.
Dan betapa sepasang mata yang berurai air mata itu menyaksikan setiap adegan tanpa berkedip.

Tamat




Teori konspirasi 3 - Sang dalang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Markas Polisi Pusat, Jalan Tanah Abang 13

Dua minggu lewat sudah setelah kasus pencurian berlian Kohinoor dari museum nasional. Inspektur polisi yang baru, kolonel Budi, nampak berada di kantornya yang baru. Koran dan majalah menumpuk di atas mejanya. Semuanya memiliki berita utama yang berkaitan dengan pencurian berlian Kohinoor.

Kompas: Pencuri berlian Kohinoor ditemukan tewas

"M, petugas kafetaria museum nasional, yang menghilang dan buron sejak terjadinya pencurian berlian Kohinoor ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel berbintang. Di dalam pipa toilet kamar mandi, ditemukan dokumen dalam keadaan rusak berat. Berkat keahlian pihak kepolisian, dokumen tersebut bisa diidentifikasikan sebagai tiket pesawat menuju ke sebuah negara di daerah segitiga emas, paspor, dan surat-surat keterangan perjalanan. Diduga pencuri berlian yang naas itu dibunuh oleh teman atau atasannya sendiri yang kemudian mengambil berlian milik raja Nepal tersebut. Bersamanya juga ditemukan tewas seorang gadis yang diduga adalah perempuan panggilan kelas tinggi. Peluru-peluru yang menewaskan keduanya berasal dari senjata laras pendek yang biasa dijumpai di pasar gelap.."

Suara Pembaruan: Tragedi Brigadir Jenderal Purnawirawan Ahmad
"Sejak meninggalnya istri yang dicintainya dua tahun lalu, Kolonel kemudian Brigadir Jenderal Purnawirawan Ahmad selalu berada dalam situasi yang menyulitkan. Inspektur polisi yang terkenal jujur ini sudah lama berangan-angan memberantas praktek gelap mafia di negara ini. Belum usai dengan tugasnya, posisinya kembali terancam bahkan akhirnya terguling dengan skandal pencurian berlian Kohinoor dua minggu yang lalu. Jenderal purnawirawan Ahmad diberitakan meninggalkan ibu kota untuk mengunjungi satu-satunya puteranya yang bertugas sebagai dokter di sebuah desa kecil di Timor Barat. Selanjutnya, beliau merencanakan untuk menikmati masa pensiunnya di tempat yang jauh. Jauh dari semuanya yang mengingatkannya ke tragedi beruntun yang dialaminya.."

Pikiran Rakyat: Di mana berlian Kohinoor sekarang?
"Meskipun buron utama pencurian berlian Kohinoor telah ditemukan tewas, berlian yang konon berharga lebih dari empat ratus pesawat jumbo jet itu masih belum ditemukan. Ada banyak spekulasi yang mengatakan tentang adanya keterlibatan kelompok mafia yang berasal dari dalam negeri. Namun spekulasi lain mengatakan bahwa sebenarnya konspirasi pihak mafia internasional yang mendalangi semuanya ini. Jika benar demikian, pantas untuk dikhawatirkan bahwa berlian Kohinoor sudah tidak berada di negara ini lagi, mengingat bahwa transportasi laut antar perbatasan praktis tak lagi terkontrol. Sebuah sumber mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang menjalin kemungkinan kerja sama kepolisian atau bahkan militer dengan negara-negara lain di asia tenggara guna memperoleh kembali berlian tersebut.."

Pos Kota: Tewas setelah mendapat kenikmatan sekali seumur hidup
"M, penjaga kafetaria museum nasional, buron utama pencurian berlian Kohinoor ditemukan tewas di sebuah kamar hotel mewah di ibu kota. Badannya ditemukan menelungkup di atas badan mahasiswi cantik berbadan tinggi montok serta putih mulus. Keduanya tewas dalam keadaan telanjang setelah selesai melakukan hubungan intim. Ini dibuktikan oleh visum dokter rumah sakit tentara yang menemukan cairan mani yang masih segar di dalam tubuh mahasiswi tersebut. Seperti diberitakan oleh pihak kepolisian, keduanya tewas oleh lima buah peluru yang ditembakkan dari jarak dekat. Sebuah sumber menspekulasikan bahwa pembunuh berdarah dingin tersebut sempat menonton permainan ranjang temannya sampai selesai. Diberinya temannya kesempatan guna mendapat kenikmatan sekali seumur hidup sebelum akhirnya nyawanya dihabisi. Tidak 'terlalu' jahat rupanya.."

Bernas: Dua gadis pencurian berlian Kohinoor ditemukan tewas
"Pihak kepolisian memastikan bahwa perempuan yang tewas tertembak bersama pencuri berlian Kohinoor di sebuah kamar horel berbintang adalah salah seorang gadis yang berada di museum pada saat pencurian berlangsung. Sementara itu pada lokasi yang terpisah, namun pada waktu yang hampir bersamaan, gadis kedua ditemukan juga tewas terjatuh di tebing pesisir pantai selatan di daerah Pelabuhan Ratu. Seperti yang telah diberitakan oleh pihak kepolisian, kedua gadis tersebut adalah perempuan panggilan kelas atas yang disewa guna mengalihkan perhatian ketiga satpam yang bertugas di museum. Meskipun tidak ada bukti yang kuat, dapat diduga bahwa dalang pencurian berlian Kohinoor telah berusaha dan berhasil menghilangkan jejak semua orang suruhannya.."

Belum selesai membaca semua headline berita yang ada, inspektur Budi dikejutkan oleh dering telepon di mejanya. A Hong, Bos Naga Hijau menelepon.
"Pokoknya ini adalah urusan antara Naga Hijau sama kelompok jenderal bangsat itu", katanya.
"Aku ndak mau pihak kepolisian terlibat", tambahnya.
Di sebuah gudang besar, nampak tubuh seorang laki-laki terbujur dekat kakinya dengan badan hancur. Sambil disepaknya muka Pak Tom yang sudah tak bernyawa itu dengan kakinya, dia berkata dengan geram.
"Setelah peristiwa di museum, aku tak percaya lagi dengan semua anak buahku. Aku pasang alat perekam di setiap telepon genggam mereka sampai akhirnya tertangkap juga sebenarnya siapa si tikus celurut", katanya dengan napas memburu.

"Ndak, ndak", katanya lagi.
"Aku ndak dapet itu berlian, cuma duit sekantong. Itu berlian pasti udah di tangannya jenderal. Tapi aku ndak mau pihak kepolisian turut campur. Biar aku saja yang memberesinya"
"Lalu apa rencanamu?", tanya suara di seberang.
"Perang total", kata A Hong lagi.
"Aku memang dari dulu pengin menghabisinya. Sekarang aku punya alasan. Atur saja anak buahmu biar ndak ada yang ketembak"
Si engkong yang duduk di sudut ruangan nampak manggut-manggut. Dia juga memegang sebuah gagang telepon yang disambungkan paralel.
"Anggap aja kerjasama kita soal berlian udah bubar. Ndak ada kontak lagi. Sekian aja", tegasnya.
"Kita dapet berlian atau ndak, bukan urusanmu lagi. Kalo situ ikutan campur, kita bongkar keterlibatanmu", ancamnya.

Inspektur polisi Budi hanya bisa menelan ludah. Pupus sudah harapannya untuk mendapat komisi dari pencurian berlian.
"Tapi posisi inspektur kepala sudah lumayanlah", katanya menghibur diri.
Belum selesai dia termenung, Timbul, anak buahnya yang setia datang menghadap.
"Siap buat transfer satpam Alfon, Slamet, dan Bambang, Pak", katanya hormat.
"Jaga yang bener, jangan sampe kabur", perintahnya dengan tanpa semangat.
Anak buahnya segera berlalu untuk memindahkan ketiga satpam malang itu ke rumah tahanan resmi, Cipinang, sambil menunggu masa pengadilan.

*****

Presidential Suite, Hotel Delta, Darwin, Australia

Tampak duduk seorang pria setengah baya berpakaian rapi bertipe pejabat bersama tiga orang bule. Dua dari orang bule itu berbadan kekar. Lengan kanan atas mereka bertato roda merah bersayap. Keempatnya sedang menonton TV saluran sembilan, berita luar negeri. Seorang wartawan bule cantik sedang memberitakan skandal pencurian berlian Kohinoor yang rupanya sudah menjadi berita internasional.

"The Indonesian government has announced its coalition with seven other countries in southeast asia to retrieve back the stolen diamond. These include Singapore, Malaysia, Thailand, Philippines, Vietnam, Myanmar and Laos. Among other things, the coalition will involve military action towards the golden triangle region. The United States and the other western countries, including Australia and New Zealand are out of the coalition but are willing to provide any necessary military supports and logistics against what they call global terrorism. China, Russia, India, Pakistan, and Nepal are against the coalition. They suggest that clear proves and evidents be required before making such violent action that may harm civilian, mostly poor peasants, living in the region. Meanwhile, the largest group of warlords in the golden triangle, known as The Blue Lotus, have denied their involvement in the diamond scandal. They have said that the diamond is merely an excuse to launch a huge military action against them.

Other news from Indonesia includes the escalating violence between two rival gangs, the winning of their national soccer team against Brazil, and a success story of one of the former president Suharto's daughters, nick named as Tutut, starring in soap opera series. These can be.."

("Pemerintah Indonesia telah mengumumkan koalisinya dengan tujuh negara asia tenggara lain untuk mendapatkan kembali berlian yang dicuri. Ini meliputi Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Laos. Di antara hal-hal lainnya, koalisi tersebut akan melibatkan tindakan militer terhadap kawasan segitiga emas. Amerika dan negara-negara barat lain, termasuk Australia dan Selandia Baru tidak termasuk dalam koalisi tapi bersedia memberikan dukungan militer maupun logistik yang dibutuhkan untuk memerangi apa yang mereka sebut sebagai terorisme global. Cina, Rusia, India, Pakistan dan Nepal memerangi koalisi tersebut. Mereka menghimbau bahwa sebaiknya diperlukan pembuktian yang jelas terlebih dulu sebelum melakukan tindakan kekerasan yang akan menyebabkan banyak penderitaan di kalangan sipil, utamanya adalah masyarakat kecil. Sementara itu, kelompok penguasa terbesar di kawasan segitiga emas, yang dikenal sebagai Teratai Biru, telah menyangkal keterlibatannya dalam skandal berlian tersebut. Mereka mengatakan bahwa skandal berlian tersebut hanyalah alasan untuk melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap mereka.

Berita lain dari Indonesia antara lain meliputi meningkatnya kekerasan antara dua geng yang saling bersaing, kemenangan tim sepak bola mereka terhadap Brazil, dan cerita sukses salah satu anak perempuan mantan presiden Suharto yang akrab dipanggil Tutut, yang membintangi sebuah seri opera sabun. Ini bisa jadi..")

"Hm", pria bule yang duduk di tengah berpikir keras sambil mematikan TV.
"You did a marvelous job, i think. You've made the two rival gangs fighting each other (Anda telah melakukan pekerjaan yang hebat, saya rasa. Anda telah menyebabkan dua gang yang saling bersaing untuk berperang)"
"I never like both of them, anyway (Lagipula, saya memang tidak pernah menyukai mereka keduanya)", jawab si pria bertampang pejabat itu.
"That poor guy never met me before. It is hard to recognize face and voice though, especially if you see somebody only from TV or newspaper (Orang malang itu belum pernah bertemu dengan saya sebelumnya. Sulit untuk dapat mengenali wajah maupun suara seseorang, apalagi jika anda hanya melihat orang tersebut melalui TV ataupun koran)", ujar si pejabat.
"So, he thought you were the real general and gave the diamond to you (Jadi, dia pikir anda adalah benar-benar si jenderal hingga memberikan berlian itu pada anda)", sambung si bule mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"His boss caught him and killed him. Poor that general, he got blamed. Hey, i am also a general, i just got my last promotion before retiring (Bosnya telah menangkap dan membunuhnya. Kasihan si jenderal itu, dia yang kemudian dipersalahkan. Hei, saya juga seorang jenderal, saya baru saja mendapatkan kenaikan pangkat sebelum pensiun)", kata si Bapak pejabat itu lagi tertawa-tawa.

"Ok, then you gave my rival, The Blue Lotus, a bad name and even facing military action. Thanks alot (Baik, lalu anda memberikan pesaing saya, Teratai Biru, nama yang buruk dan bahkan harus menghadapi tindakan militer. Terima kasih banyak)", tambahnya.
"Hey, it was easy. I spreaded rumours a while ago that they might be active in Indonesia. My people really thought that it's an official. Even the president believed. Not my mistake, though. I was just spreading unofficial rumours, no proof, no liability (Hei, itu mudah. Saat itu saya hanya menyebarkan isu bahwa mereka mungkin saja akan aktif di Indonesia. Masyarakat saya pikir, pernyataan saya itu resmi. Bahkan presiden pun percaya. Bukan salah saya, saya hanya menyebarkan isu tidak resmi, tanpa bukti, tanpa pertanggungjawaban)", katanya sambil tersenyum.
"Yeah, this reminds me of that Bush guy (Yah, ini mengingatkan saya pada si Bush itu)", kata si bule lagi manggut-manggut.
"Yup, no real proof, but committed action. Then what do you want to do to that guy, the new chief inspector? (Yap, tanpa bukti nyata, hanya gembar-gembor. Lalu apa yang ingin anda lakukan pada orang itu, si inspektur kepala yang baru?)", tanyanya ingin tahu.
"I have my own plan (Saya sudah memiliki rencana sendiri)", jawab si Bapak.
"I will not tell you, but i will guarantee that he will step down next month. I have all evidences that he was involved in the failed diamond theft (Saya tidak akan memberitahukan anda, tapi saya jamin bahwa ia akan jatuh pada bulan depan. Saya telah memiliki semua bukti bahwa ia terlibat dalam usaha pencurian berlian yang gagal tersebut)", ujarnya lagi.

"Anyway, i have to go now. Thanks for the diamond, nice working with you (Omong-omong, saya harus pergi sekarang. Terima kasih atas berliannya) ", kata si bule sambil menepuk tasnya.
Dua orang pengawalnya segera bangkit.
"The Red Wings would like to appreciate your cooperation (Sayap Merah menghargai kerja sama anda)", katanya lagi.
"How did you get away with the customs? (Bagaimana cara anda melalui pemeriksaan pabean?)", tanyanya penasaran sambil membuka pintu.
"Hey, i am a general. Nobody dares checking my luggages in the country (Hei, saya jenderal. Tidak ada yang berani memeriksa barang bawaan saya di tanah air saya)", ujar sang pejabat yang ternyata jenderal dengan santai.
"And then you picked me from Kupang using your private plane and flew directly to Darwin. Instead, i did not know what you did with the immigration officer in Darwin (Dan kemudian anda menjemput saya dari Kupang dengan pesawat pribadi dan terbang langsung ke Darwin. Sebaliknya, saya tidak tahu dengan apa yang telah anda lakukan dengan petugas imigrasi di Darwin)", tambahnya lagi.
Si bule hanya tersenyum.
"He's one of our guys. He didn't know about the diamond though (Dia adalah salah satu orang kami. Lagipula dia tidak mengetahui tentang berlian tersebut)", katanya sambil berlalu.

*****

Bar Hotel Delta, Darwin, Australia, 15 Menit Kemudian

Pak Ahmad, polisi teladan yang terkenal jujur dan pemilik tujuh tanda jasa tingkat propinsi dan nasional menghela napas panjang.
"Akhirnya, aku bisa juga pensiun dengan tenang", katanya.
Diambilnya sebuah kertas kecil dari saku baju sebelah kirinya. Itu adalah receipt dari transaksi untuk the National Swiss Bank. Dihitungnya jumlah angka nol yang ada.
"Masih tetap sama", katanya sambil tersenyum.
"Dollar Amerika lagi", tambahnya.
Kemudian dirogohnya kembali saku yang sama. Paspor baru warna biru. Tidak jelas milik negara mana. Tapi bukan Indonesia yang pasti. Nampak pas fotonya di halaman yang kedua. Dan Bambang Santoso, begitu nama di bawahnya.

Tamat




Teori konspirasi 2 - Para pion

0 comments

Temukan kami di Facebook
Markas Kelompok Mafia Naga Hijau

"Benar-benar goblok kamu!", maki seseorang berbadan gendut.
Siapa lagi kalau bukan A Hong, konglomerat kaya sekaligus bos mafia Naga Hijau tingkat nasional. Obat bius, perek, dan judi, semua dikuasainya. Tangan kanannya memegang sebuah rotan panjang.
"Ampun Bos", teriak seorang pria yang terduduk di lantai ketakutan.
Pria tersebut adalah pria yang mengenakan sepatu lars tadi. Kedua tangan dan lengannya membiru memar bekas pukulan. Dari hidungnya menetes darah segar.
"Bukan salah saya, Bos", katanya kesakitan.

"Sudahlah Bos", kata seorang pria yang lain.
Pak Tom panggilannya. Dia adalah si sopir mobil merah metalik.
"Ini adalah konspirasi tingkat tinggi", katanya membela temannya.
"Maksudmu, si bangsat jenderal pensiunan itu?", tukas si Bos dengan nada tinggi.
"Siapa lagi Bos, kalau bukan dia?", jawab si sopir sambil menolong temannya berdiri.
"Ada satu orang lagi", kata seorang pria tua yang berdiri di sudut.
"Teratai Biru", jawab si engkong kalem.
"Aku barusaja dapet info, itu tuh dari temenmu si polisi. Ini mafia dari daerah segitiga emas yang terkenal dengan transaksi gelap barang-barang berharga", katanya sambil menghisap cerutu mahal buatan Kuba.
"Ini memang spesialisasi mereka", tambahnya lagi.

"Begini teoriku..", katanya lagi sambil berdiri.
"Si jenderal nyuruh seseorang buat ngambil berlian waktu alarm udah mati. Itu waktu Bejo ada di kamar mandi", katanya sambil melotot ke arah pria bersepatu lars bernama Bejo yang nampak bersalah.
"Naa, Teratai Biru juga punya orang suruhan yang nunggu Bejo di luar. Ndak dapet juga dia, soalnya kan Bejo ndak punya berliannya. Si maling yang beneran, masih nunggu dalem gedung dan baru keluar setelah semuanya aman"

Semua orang yang ada di ruangan itu benar-benar kagum dengan ketajaman otak si engkong yang telah berumur sembilan puluh tahun itu.
"Mungkin juga bisa kebalik skenarionya", jelasnya lagi.
"Orangnya Teratai Biru yang ngambil, satunya lagi orangnya jenderal. Pokoknya ini permainan segitiga. Aku ndak bisa lihat siapa lagi yang berani dan mampu ikut-ikutan selain kelompok kita, jenderal, dan Teratai Biru. Ini pencurian tingkat tinggi. Liat, koneksinya ke pihak kepolisian. Belum lagi resikonya. Lagian, liat itu timingnya, gimana mereka bisa tahu? Yang jelas, kita sudah berada di pihak yang kalah", katanya sambil melemparkan sisa cerutunya ke lantai.

"Terus kita harus gimana Kong", tanya si Bos.
"Ada dua hal", kata si engkong tegas.
"Periksa semua jalur telepon dan sistem telekom punya kita. Aku pengin tau apa ada yang menyadap. Aku percaya orang-orang kita semua setia. Kecuali kalo ada yang mulai berani macam-macam", katanya pasti.
"Kedua, telepon cepat itu polisi, bilang aja apa adanya. Kita atur rencana selanjutnya nanti saja", kata sang godfather tegas.
"Baik Kong", jawab A Hong dan segera keluar dari ruangan.
Si engkong duduk di kursi sambil mengambil dan menyalakan sebuah cerutu yang baru.

*****

Markas Polisi Pusat, Jalan Tanah Abang 13

Rapat bersama jarak jauh (conference call) baru saja selesai. Inspektur Ahmad menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Baru saja dia mendapat teguran dari Ibu Negara, gubernur, berikut walikota sekaligus. Dia adalah polisi teladan pemegang tujuh penghargaan propinsi dan nasional. Dialah yang seharusnya bertanggungjawab atas pengamanan museum nasional.
"Dua minggu harus sudah beres, atau pensiun dipercepat"
Masih terngiang kata-kata itu di telinganya.
"Bukan salah mereka", katanya dalam hati.
Raja Nepal bahkan sudah mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik plus ganti rugi sekian persen dari anggaran belanja negara.

"Ada berita tentang dua gadis cantik itu?", tanyanya ke ajudan di sebelahnya.
"Belum Pak", jawab kapten Anton.
"Masih buron. Kita telah menyebarkan orang ke semua universitas, akademi, klub malam, dan berbagai tempat. Ciri-cirinya cukup jelas. Ini menurut deskripsi ketiga satpam itu", tambahnya.
"Jangan lupa dengan si pegawai kafetaria. Dia juga masih buron kan?", tanyanya.
"Betul Pak. Keluarganya di desa bilang tidak tau apa-apa. Sudah lima tahun tidak pulang", jawab bawahannya.
"Ada berita baru dari satpam-satpam itu?", tanya Pak Ahmad lagi.
"Tidak Pak, pernyataan mereka belum berubah", jawab si kapten.
"Kedua gadis itu sudah kabur sebelum ketiga satpam itu sadarkan diri dari tidur. Kasihan satpam Bambang Pak, keluarga dan calon istrinya bahkan sempat datang ke sel", katanya lagi.
Inspektur Ahmad hanya mempu menghela napas panjang.
"Orang jujur dan tak tahu apa-apa memang yang biasanya selalu menjadi korban", katanya sambil masuk ke kantornya dan mengunci pintu dari dalam.

*****

Sementara itu, seorang polisi lain nampak bergegas masuk ke kantor wakil inspektur Budi.
"Ada kabar buruk Pak", katanya sambil menutup pintu.
Dari luar kantor, nampak keduanya bersitegang. Wakil inspektur Budi nampak marah.
"Kurang ajar, jenderal bangsat", makinya.
"Kata A Hong, Teratai Biru juga ikutan Pak", ujar kopral Triman.
"Aku sih yang bilang ke engkong tentang info Teratai Biru. Aku sendiri dengar kabar itu dari Pak Ahmad", kata si wakil inspektur dengan nada hati-hati.
"Ini top secret", bisiknya.
"A Hong bilang meetingnya besok, jam sembilan di Hotel Mutiara Pak", kata bawahannya lagi.
Atasannya mengangguk-angguk setuju.

"Ada kabar dari dua perek yang kita sewa itu?", tanyanya.
"Tidak Pak. Orang saya sempat ke tempat mereka, tapi pembantunya bilang sedang pergi luar kota. Dua cewek itu memang laris Pak, banyak pejabat yang suka. Tapi jangan kuatir Pak, tidak ada yang tau kalau kita yang nyewa. Kan kita pakai orang ketiga", kata si kopral.
Kembali atasannya manggut-manggut.
"Itu yang paling penting. Keterlibatan kita dan kelompok Naga Hijau harus dirahasiakan", katanya pelan.
"Pak, nanti kalo Bapak jadi inspektur kepala, jangan lupa sama saya ya", bisik si kopral korup.
Senyum lebar mengembang di wajah atasannya.
"Ah, gagal dapat berlian, tapi gua masih dapat posisi kepala", katanya dalam hati.
"Tapi kalau kedua-duanya bisa dapet, lebih baik lagi", pikirnya agak menyesal.

*****

Vila Mewah di Puncak

Ini adalah villa milik seorang pensiunan jenderal angkatan darat. Sukimin, jenderal berbintang empat, teman baik pejabat-pejabat orde baru maupun orde reformasi. Dia punya bisnis perkebunan, tanaman keras, dan pertambangan yang luar biasa sukses. Kabarnya dia mulai tertarik dengan bisnis kotor batu-batu mulia, penyelundupan maksudnya.

Suasana pagi nampak sedikit terganggu dengan suara-suara kecil di kamar tidur. Seorang Bapak tua sedang menelungkup di atas ranjang dengan dipijit oleh dua orang gadis cantik.
"Jangan malu-malu, apa kamu belum pernah ngeliat orang telanjang", katanya tertawa-tawa.
Gadis manis bertubuh kecil berisi itu menjawab dengan malu-malu, "Belum tuch Pak".
Tangannya kuning langsat tipe orang sunda. Pijatannya ke punggung si bapak nampak canggung. Gadis yang lain nampak sudah terbiasa dengan aktifitasnya. Badannya lebih tinggi dengan warna kulit sawo matang. Wajahnya juga cantik dan berambut sedikit ikal.

"Sini, sini", kata si bapak sambil membalikkan badan dan menarik kaki gadis itu.
Si gadis nampak ketakutan melihat kepunyaan sang jenderal yang hitam.
"Mirip dodol garut yang dijual sama Ibumu di desa ya?", kata si bapak sambil tertawa-tawa.
Dibukanya kedua belah kaki gadis yang mungil itu. Dibaliknya roknya hingga nampak sepasang paha mulus dan celana dalam warna krem di pangkalnya. Pak Jenderal mulai menggosokkan mukanya ke paha sebelah dalam yang halus itu. Rontaan gadis itu tak banyak berguna karena gadis yang lain ikut menelentangkan badannya serta memegangi tangannya.

"Ampun, ampun", teriak gadis itu bertambah ketakutan.
"Pegangi terus", perintah si bandot tua kepada gadis satunya sambil melolosi celana dalam si gadis malang.
Tampak rambut kewanitaannya yang tak terlalu lebat namun halus.
"Aah, ini baru namanya perawan desa", katanya sambil mulai menjilati bibir kelamin si gadis yang masih tertutup.
"Enak", katanya lagi sambil memainkan si daging mungil dengan lidah dan jarinya.
Lalu, sang jenderal bangkit dan merentangkan kedua kaki si perawan desa lebar-lebar. Rontaannya bertambah kuat, namun apa daya, tenaga tak ada.
"Tenang aja", kata gadis satunya yang berkulit sawo matang.
"Entar kalo udah biasa enak kok", katanya santai sambil memegangi kedua pergelangan tangan rekannya erat-erat.

Sementara itu, di ruang tamu villa.
"Tunggu sebentar, Bapak lagi sibuk", kata seseorang berbadan kekar kepada kedua tamunya.
Tamu itu, si pria bersepatu cats tadi malam dan seseorang lagi bertopi pet mengangguk paham.
"Pak Jenderal memang terkenal dengan kesukaannya 'makan' perawan desa yang dipilihnya sendiri dari para pekerja perkebunan teh di sekitar villanya"
Keduanya duduk di kamar tamu yang berkarpet merah dari Itali.
"Biar aku saja yang bicara", bisik si pria bertopi pet.
"Pak Jenderal kenal baik sama aku. Kalem aja", katanya menenangkan temannya yang nampak cemas sekali.

Kembali dengan sang jenderal dengan gula-gulanya.
"Aah", puas wajah Pak Jenderal ketika kelelakiannya berhasil menerobos sampai setengahnya. Tarik lagi, dorong lagi, baru akhirnya masuk semua. Segera ditindihnya badan mungil di bawahnya itu. Kedua tangannya menyingkap kain rok tersebut sampai ke atas dada, kemudian direnggutnya bra penutup kedua belah dada yang padat dan ranum itu.
"Aah", katanya lagi karena puas sambil meremasi kedua benda kenyal itu.
Mulutnya menghisap dan menjilati puting merah muda serta mungil itu. Sementara pinggulnya terus memompa keluar masuk. Wajahnya nampak kegirangan melihat noda darah di sepreinya.
"Aah", katanya lagi seperti kesurupan.

Setengah jam kemudian, Pak Jenderal nampak menjamu kedua tamunya di dalam kamar tidurnya. Badannya masih terbalut handuk di bagian bawah.
"Gampang Pak, kalo cuma ngakalin gerombolannya A Hong. Saya udah dapet semua rekaman teleponnya. Tau persis waktu sama modus operandinya. Tapi saya tidak tau Pak, kalo sampai ada pihak ketiga", kata pria bertopi pet memecah kesunyian.
Pria bersepatu cats sempat melirik ke sepasang gadis cantik yang hendak meninggalkan kamar, ketika Pak Jenderal mulai angkat bicara.
"Setahumu, teman-temanmu tidak ada yang terlibat kan?", tanyanya dengan suara bariton.
Pria bersepatu cats, yang tak lain adalah satpam museum yang bertugas di siang harinya, menjawabnya dengan ketakutan.
"Alfon sama Slamet pasti tidak tau Pak. Saya berani jamin. Apalagi Bambang, kan dia orang baru. Baru dua minggu kerja. Naa, kalo Mamat itu, saya tidak tau Pak. Orangnya misterius, tidak suka ngobrol sama kita-kita", tambahnya.
Pak Jenderal tak menjawab, diam seribu bahasa. Rupanya dia masih belum mengetahui keberadaan kelompok Teratai Biru. Itu adalah informasi baru dari pihak kepolisian yang masih top secret, rupanya.

*****

Hotel Mandarin, Bundaran Ibu Kota, Kamar 77, Pukul 11.00

Seorang pria berbadan hitam kurus tak terawat sedang menyetubuhi seorang gadis cantik bertubuh tinggi montok dan berkulit putih. Si pria bernafsu sekali dengan gerakan maju mundur pinggulnya. Mulutnya yang tonggos menghisapi dada montok gadis itu. Kedua tangannya menahan kaki gadis yang mulus itu ke ke samping badan, sehingga penetrasinya bisa maksimal. Gerakan pantatnya tiba-tiba terhenti. Pilar kejantanannya menghunjam dalam-dalam. Kepalanya terangkat ke atas, dan dari mulutnya keluar kata-kata yang tak jelas. Entah itu sumpah serapah ke pemerintah daerah ataupun pujian ke surga. Kemudian ambruklah dia karena kelelahan dan penuh kepuasan. Maklum, gadis itu benar-benar mirip bintang film hongkong yang sering dia lihat di bioskop murahan Pasar Senin karena dia cuma buruh kelas rendahan.

Belum lima menit rebahan di atas tubuh yang putih montok itu, pria tersebut mengangkat kepalanya dengan terkejut. Demikian pula dengan gadis itu, terhenyak bangun sambil berusaha menutup tubuhnya yang masih telanjang.
"Lho kamu", ujarnya terkejut sekaligus ketakutan melihat seorang pria yang telah berdiri di samping ranjang.
Maklumlah, pria itu memegang sebuah pistol dengan peredam suara.
"Jubb.., jubb.., jubb..".
Tiga peluru menembus tubuhnya yang telanjang. Satu di kepala, dua di punggung.
"Jubb..", satu peluru lagi menghantam si gadis di bagian kepala.
"Jubb", satu lagi di leher.
Keduanya tewas seketika dengan bermandikan darah dan keringat.

Sepuluh menit kemudian, pria misterius itu nampak meninggalkan kamar dan berlari ke arah tangga darurat. Tangan kirinya menenteng sebuah tas kulit hitam. Dengan telepon genggamnya, dihubunginya sebuah nomor.
"Halo Pak Jenderal, Berhasil Pak", katanya.
"Bagus, kamu pagi-pagi ke tempatku", perintah suara di telepon.
Pria tersebut menutup teleponnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak buahnya sendiri aja sampai kagak tau kalau dia punya rencana cadangan. Bekas orang intelijen sih", pikirnya dalam hati.
"Aku hebat juga, Pak Bos sama Engkong aja nggak kepikiran, ha.., ha..", pikirnya bangga.
"Goblok juga si Bejo, kagak periksa ruang kafetaria tempat si Mamat ngumpet. Malah kesenengan ngintip, ha.., ha.., Hebat Pak Jenderal, semuanya sampai udah diperhitungkan", katanya dalam hati dengan penuh takjub.
Segera dinyalakannya mesin dan dikemudikannya mobilnya ke arah Pelabuhan Ratu.

*****

Villa Mewah Di Pelabuhan Ratu

Seorang gadis berbadan putih telanjang sedang bersetubuh dengan posisi di atas membelakangi pasangannya. Kedua belah pahanya yang mulus bersimpuh di atas badan telanjang seorang pria setengah baya. Kedua tangannya memegang erat lutut di depannya untuk memudahkan goyangan pinggulnya. Pria yang berada di bawah, meletakkan telepon genggamnya di atas meja samping. Diremasnya kedua belah dada yang tak terlalu montok namun padat itu dari belakang. Kemudian dibelainya kedua belah lengan dan tubuh gadis yang tak terlalu tinggi tapi langsing itu.
"Ha.., ha.., aku memang jenderal terhebat di seluruh dunia", tawanya keras.
Si gadis nampak tak peduli dan tetap meneruskan goyangannya. Sudah terlalu sering dia mendengarkan bualan dan khayalan para pejabat di atas tempat tidur.

*****

Tampaknya semuanya sudah tersingkap, siapa saja para pelaku dan dalang pencurian berlian Kohinoor. Tapi jangan senang dulu, bagian ketiga pada sequel cerita berikutnya (Sang Dalang) bakal membuktikan bahwa anda semua keliru, pihak yang anda sangka sebagai dalang, sebenarnya masih sekedar 'pion'. Akhir cerita akan benar-benar di luar dugaan, dimana si dalang sesungguhnya, benar-benar sangat professional dalam mempermainkan semua lawannya.

Bersambung . . .




Teori konspirasi 1 - Insiden di museum

0 comments

Temukan kami di Facebook
Museum Nasional Tommy Soeharto, Selasa 16.55

Museum nampak lengang. Sepeda motor bebek hitam milik satpam yang bertugas siang hari baru saja meninggalkan kompleks museum. Satpam pengganti nampak hendak menutup pintu gerbang, ketika entah dari mana asalnya, muncul dua orang gadis cantik.
"Bisa pinjam teleponnya Pak? Mobil kami mogok..", tanya gadis yang berambut ikal.
Satpam yang berbadan pendek itu tampak bengong. Perasaannya mengatakan bahwa tidak ada mobil mogok di dekat daerah ini.
"Bisa nggak Pak?", tanya gadis itu lagi.
"Iya, iya Non", jawabnya tanpa mampu berkonsentrasi.
Maklumlah, keduanya benar-benar mirip bintang film hongkong yang sering dilihatnya di bioskop murahan Pasar Senin.

Pintu depan gedung museum sudah tertutup rapat. Mereka bertiga menuju ke bagian samping gedung.
"Mogoknya di mana Non?", tanya si satpam sambil melirik ke dada montok berlapis baju kaos tersebut.
Rok ketat di atas lututnya membungkus pinggul yang bundar serta menampakkan belahan betisnya yang putih mulus. "Sebelah sana", jawab gadis yang satunya lagi dengan sembarangan.
Gadis berambut lurus itu mengenakan baju tanpa lengan dan celana panjang ketat. Tidak terlalu tinggi posturnya namun langsing badannya. Satpam yang rambutnya sudah mulai memutih itu menelan ludah.
"Kagak montok sih, tapi buah dada sama pinggulnya lumayan padet", pikirnya.
Walaupun umurnya sudah cukup tua, tapi masih suka barang jorok juga dia rupanya.

Dalam ruang petugas keamanan, dua orang petugas satpam yang lain tampak terkejut dan segera bangkit dari kursinya melihat kedatangan dua orang gadis cantik itu. Sementara gadis yang berambut ikal sedang sibuk memakai telepon, Alfon, satpam asal Irian yang berambut keriting memperkenalkan diri. Badannya kekar, berumur sekitar empat puluhan. Rupanya dia adalah satpam kepala. Gadis yang berambut lurus tersebut mengaku mahasiswi Fakultas Ekonomi di sebuah universitas swasta.
"Kalau temen saya itu di fakultas sospol", ujarnya memperkenalkan temannya.
Dengan pandangan mata yang menelanjangi, Alfon pun memperkenalkan kedua satpam temannya. Slamet yang berumur sembilan belas tahun dan bertampang cukup tampan, Bambang yang bertubuh pendek dan berambut ubanan.
"Eh, maap keliru, kebalik", katanya konyol.
"Ini Slamet, yang ini Bambang", koreksinya.
Tak bisa berkonsentrasi dia rupanya. Maklumlah, gadis yang berdiri di depannya benar-benar mirip bintang film Hongkong yang sering dilihatnya di bioskop murahan Pasar Senin itu.

Sementara itu, seseorang bersepatu lars berjalan mengendap-endap memasuki balairung (ruang utama) museum. Diarahkannya pandangan matanya ke jendela besar ruang petugas keamanan yang menghadap ke ruang utama. Rupanya pria tersebut bermata elang. Jarak dari tempatnya berdiri hingga ke ruang petugas keamanan ada berjarak sekitar dua puluh meteran. Tak ada halangan baginya untuk memastikan bahwa kedua gadis cantik dan ketiga satpam tersebut sedang berbincang-bincang. Cukup terang memang, lampu dalam ruang tersebut.

Sekali-sekali terdengar tawa mereka.
"Ini bentar lagi mau kawin Non", ujar Alfon dengan suara lantang memegangi bahu satpam Bambang.
Satpam muda itu nampak malu-malu.
"Lho, belum pacaran kok udah mau langsung kawin?", goda si gadis berambut lurus.
"Rugi kamu 'mBang", tambahnya.
Di sudut ruangan, kelihatan gadis yang ber-rok mini sedang duduk santai menikmati teh kotak. Satpam Slamet berdiri di belakangnya memijati lehernya yang putih mulus.
"Pindah sini dong", perintah gadis itu dengan sembarangan sambil menunjuk ke pundak sebelah kirinya.
"Iya, iya non", satpam Slamet menurut saja bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya.
Matanya terus melotot ke belahan montok di bawahnya. tampaknya ketiga satpam tersebut tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Bagus, semuanya berjalan sesuai dengan rencana", pikir pria bersepatu lars itu.
Dialihkan pandangannya ke sebuah kotak kaca berukuran satu kali satu meter di tengah ruang utama museum. Penerangan remang-remang dalam ruang tersebut tidak menghalangi pandangannya. Sebuah berlian sebesar bola baseball tersimpan dengan aman. Berlian dua puluh empat karat milik raja Nepal yang sedang dipinjamkan kepada pemerintah Indonesia untuk dipamerkan. Berlian Kohinoor. Semua orang tahu itu. Rupanya pria tersebut memiliki maksud buruk. Pandangan matanya beralih ke kafetaria kecil yang terletak persis di samping ruang petugas keamanan.
"Tumben pulang awal si Mamat hari ini. Lagi males buat bersih-bersih kali", pikirnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Dengan gesit, pria tersebut berlari kecil ke ruang perkakas di sebelah belakang gedung museum. Rupanya pintunya tak terkunci. Rupanya pria tersebut bersembunyi dalam ruang tersebut dan baru muncul setelah museum tutup. Ahli kunci palsu dia rupanya, atau jangan-jangan ada koneksi dengan orang dalam? Diambilnya sebuah tangga lipat. Persis di muka pintu darurat di samping kamar perkakas, dibukanya tangga itu. Sambil berdiri di puncak tangga, diraihnya sepasang kabel yang menuju ke alarm pintu darurat. Dengan menggunakan sebuah tang kecil, dikupasnya kabel warna merah. Dari saku bajunya, dikeluarkannya sebuah perkakas kecil, sebuah pembangkit tenaga listrik mini dengan tenaga baterai kecil. Disambungkannya alat tersebut ke kabel yang telah terkelupas.

Diarahkan tang kecilnya ke kabel warna merah di antara kawat yang telah terkupas dan alarm pintu. Tangan sebelahnya siap menekan tombol 'on' pada perkakas kecilnya. Dengan cekatan, dipotongnya kabel warna merah, dan pada saat yang sama dioperasikannya perkakas mini itu. Sinyal lampu alarm di ruang penjaga keamanan sempat berkedip sepersekian detik, namun itu belum cukup lama untuk dapat membangkitkan sistem alarm. Semua pintu dan jendela, kecuali pada ruang penjaga keamanan, disambungkan ke sebuah sistem alarm dengan sumber arus listrik DC. Alarm akan berbunyi jika aliran listrik menuju sistem sentral alarm terputus, entah karena pintu atau jendela terbuka, maupun karena kabel diputuskan. Namun semua orang tahu, semua sistem memiliki kelemahan, bahkan untuk yang tercanggih sekalipun. Benar-benar professional pria tersebut rupanya. Dikembalikannya tangga lipat ke dalam kamar perkakas. Dengan mengendap-endap, pria tersebut melintasi ruang utama museum menuju ruang petugas keamanan. Sama-sekali tak terdeteksi gerakannya. Maklum, ruang utama museum boleh dikatakan sangat gelap.

tampak satpam Slamet sedang duduk di lantai melotot ke pangkal paha gadis ber-rok mini yang duduk persis di mukanya. Kedua belah tangannya sibuk meraba dan memijiti kakinya yang putih.
"Gatel nih jempolku", kata gadis tersebut manja sambil menikmati teh kotaknya.
"Iya, iya Non", jawab Slamet menelan ludah.
Dipindahkan tangannya ke telaPak dan jari-jari kaki yang teramat sempurna itu.
"Duh, jadi malah tambah gatel", protes gadis itu lagi sambil mengangkat kaki dan memasukkan jempolnya ke mulut Slamet.
Kurang ajar sekali, mentang-mentang mahasiswi fakultas sospol. Tetapi konyolnya Slamet menurut saja, malah menikmatinya mungkin. Dihisap dan dijilatinya jempol, jari kaki, dan kaki bagian bawah gadis itu degan penus nafsu.

Gadis yang lain nampak duduk di pangkuan satpam Alfon. Dia tak peduli dengan tangan si Irian yang membelai-belai lengan putih mulusnya.
"Kamu ganteng-ganteng gitu, belum pernah ngerasain punya cewek ya 'mBang?", tanyanya menantang.
Satpam muda yang duduk di mukanya itu jadi bertambah gerah. Maklum, calon istrinya, si Murni, adalah gadis polos dengan sopan-santun desanya.
"Sini saya ajarin", kata gadis bercelana ketat itu sambil melompat turun.
Dengan santainya dibukanya celana biru satpam muda itu. Berikut celana dalamnya.
"Masih perjaka ni yee", ujar gadis tersebut sambil mengurut-urut benda hitam di depannya yang mulai mengeras.
"Belum pernah diPakai ya?", katanya sambil memasukkan benda itu ke mulutnya.
Mulutnya naik-turun dengan mata menatap ke wajah Bambang yang meringis-ringis merasakan kenikmatan.

"Pelan-pelan, nanti keluar", kata gadis yang satunya lagi sambil bangkit dari kursi.
Satpam Slamet sempat terjengkang ke belakang. Satpam Alfon tertawa-tawa melihat tingkah konyol kedua anak buahnya itu.
"Aku pengin nyicipin punya perjaka cakep", ujarnya sambil membungkuk.
Gadis berambut lurus itu 'menyerahterimakan' benda keramat itu kepada rekannya.
"Enak mana sama ini?", tanyanya menantang.
Berbeda dengan gerakan temannya, gadis itu menjilat di bagian ujung penis hingga semakin lama semakin membesar diameternya.

"Semakin mesum semakin bagus", ujar pria bersepatu lars tersebut dalam hati.
Dengan merangkak di bawah jendela besar ruang petugas keamanan, pria tersebut berjalan ke kamar mandi. Dia berjalan ke lorong sempit antara kamar mandi dan sebuah ruangan yang lain. Lorong tersebut lebarnya sekitar satu setengah meteran. Ember pel dan perlengkapan pembersih lantai lainnya biasanya diletakkan di situ. Dengan cekatan, direntangkannya kedua belah kakinya ke kedua tembok di samping kiri dan kanan. Dipanjatnya lorong tersebut dengan lincah. Tidak keliru dia memilih untuk mengenakan sepatu lars.

Di bagian atas, terletak sebuah kabel yang bagi orang awam mungkin tak ada artinya sama sekali. Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, diaktifkannya alat pembangkit tenaga listrik DC di situ. Pria tersebut tahu persis kalau kabel tersebut menghubungkan alarm pada penutup kaca berlian Kohinoor ke ruang petugas keamanan, sekaligus ke kantor polisi yang terletak sekitar enam blok dari situ. Sekali lagi, benar-benar professional pria itu. Dengan cekatan, pria itu menuruni tembok dan kembali merangkak melintasi dapur, ruang petugas keamanan, dan ke ruang utama. Namun, tiba-tiba pria tersebut berubah pikiran. Keningnya sedikit mengkerut. Wajahnya mendadak berubah menjadi mesum. Dia merangkak kembali ke bawah jendela petugas keamanan.

Sementara itu, satpam Bambang bertambah ngos-ngosan ketika kedua gadis cantik itu telah melahap kelelakiannya secara bergantian.
"Kuat juga nih, si perjaka", kata si gadis berbadan langsing.
"Nggak keluar-keluar", ujarnya penasaran.
"Kalo Pake yang ini pasti keluar Non", ujar satpam Alfon yang dengan kurangajarnya meremas pantat gadis itu dari belakang.
Bukannya marah, si gadis dengan gerakan kakinya, malah membantu Alfon melepaskan celana panjang ketat sekaligus celana dalamnya. Si satpam Irian itu bertambah mesum mukanya memandangi badan setengah telanjang dan putih mulus di depannya.

"Lepasin ya Pak", kata gadis yang berambut ikal itu tak mau kalah.
"Iya, iya Non", jawab satpam Slamet sambil merogohkan tangannya ke pangkal paha gadis itu.
Si gadis dengan santainya berjalan ke arah si satpam tampan. Satpam Slamet masih bengong memegangi sebuah celana dalam perempuan di tangan kirinya.
"Aku duluan ya", ujar gadis itu sambil mengangkat rok ketatnya.
Sambil duduk berjongkok di atas badan satpam Bambang, dimasukkannya benda hitam mengkilat tersebut di antara selangkangannya yang putih. Kontras benar dengan badan Bambang yang coklat hitam.
"Enak nggak?", katanya sambil menggerakan pinggulnya ke atas bawah.
Hangat dan erat terasa di dalamnya. Halus dan lebat terasa rambut kelaminnya di sebelah luar.

"Gantian dong", kata gadis yang lain sambil menepis tangan Alfon yang dari tadi sibuk masih meremasi pantat dan pahanya.
Kembali satpam Bambang menahan napas, menyaksikan gadis itu menjepit kelelakiannya dengan lubang surgawi yang terletak di pangkal dua paha yang mulus. Bulunya tidak selebat rekannya, namun gosokan pangkal pahanya terasa bak sutera. Goyangan maju mundurnya membuat Bambang tak berdaya lagi. Pijitan-pijitan kuat disertai rasa licin yang menggelikan melebihi kekuatan keperjakaannya.

Pria bersepatu lars itu hanya mampu menelan ludahnya menyaksikan kedua gadis itu sedang merenggut keperjakaan si satpam muda yang sebentar lagi mengakhiri masa lajangnya itu. Keduanya berjongkok di lantai dengan tangan mengurut batang kelelakian si satpam. Mereka berebutan melahap cairan keperjakaan yang menurut orang berkhasiat untuk obat awet muda. Satpam Alfon tertawa-tawa sambil melepas semua Pakaiannya. tampak badannya yang hitam dan berbulu lebat. Satpam Slamet yang dari tadi hanya bengong akhirnya ikut-ikutan telanjang.
"Perintah dari atas sudah turun ini", pikirnya.
Sampai di situ, si pria bersepatu lars ini akhirnya tak mampu menahan hasratnya lagi. Bergegas dia menuju ke kamar mandi untuk menunaikan hasrat kelelakiannya.

Lima menit kemudian, si pria bersepatu lars itu nampak baru keluar dari kamar mandi. Mukanya berkeringat.
"Kurangajar cewek-cewek itu, bikin gua jadi kayak amatiran aja", makinya dalam hati.
Kembali dia merangkak ke ruang utama museum. Masih saja sempat dia melirik ke belakang. tampak satpam Timbul yang telanjang di bagian bawah tubuhnya, masih tergolek bengong di kursi. Tak ada yang mempedulikannya lagi karena kedua satpam yang lain tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.

Si satpam 'gorilla' yang berbadan hitam dan berbulu itu nampak sedang menggendong si gadis yang berambut lurus. Kedua kaki gadis yang mulus itu mengapitnya ke pinggang, sementara tangannya berpegangan ke leher. Satpam kekar itu cukup menggunakan sebelah tangannya untuk menopang pantat padat si gadis. Sambil berjalan kesana kemari, dipastikannya bahwa batang prianya telah menancap sedalam-dalamnya ke dalam liang surgawi gadis tersebut. Tangannya yang lain meremas-remas tubuh putih di depannya. Mulut dengan bibir tebalnya mengigit dan menjilati dada padat gadis itu. tampaknya gadis bertubuh langsing itu juga menikmatinya hingga mulutnya terbuka dan menengadah ke atas. Maklumlah, ukuran Irian, siapa yang tidak akan puas?

Lain halnya dengan gadis berbadan montok yang berambut ikal itu. Sambil berdiri dengan kaki mengangkang, dibiarkannya badan Slamet yang pendek dan kumal itu menempel ketat ke tubuhnya yang mulus. Satpam Slamet memaju-mundurkan pinggulnya dengan penuh semangat, sementara kedua tangannya meremasi pantat dan pinggul montok gadis itu. Namun, si gadis tampak tak menikmati sama sekali. Kedua tangannya tak memeluk tubuh lawan mainnya, melainkan memegangi kaosnya ke atas. Branya menggantung dan terbuka di bagian depan. Mulut si satpam nampak rakus melahap kedua belah dada yang montok dan putih itu secara bergantian.

Pada saat yang bersamaan, pria bersepatu lars tersebut berlari ke pintu belakang gedung museum. Wajahnya nampak lebih cemas daripada sebelumnya. Belum ada tiga langkah pria tersebut melangkah keluar dari pintu belakang, sudut matanya menangkap gerakan cepat di samping kirinya. Terlambat sudah. Sebuah pukulan telak mendarat di tengkuknya. Seorang pria lain, yang mengenakan sepatu cats, dengan gesit memeriksa semua saku korbannya yang tergeletak pingsan. Kemudian dengan tangkas, dipanjatnya pohon mangga yang bersebelahan dengan tembok luar halaman museum. Dengan sekali lompat, mendaratlah dia di seberang luar kompleks museum.

Entah beberapa lama kemudian, si pria bersepatu lars nampak tertatih-tatih melintasi halaman samping kompleks museum. Dari jendela ruang petugas keamanan, dia masih sempat melihat satpam Alfon sedang menyetubuhi kedua gadis itu. Keduanya telanjang bulat dan menungging bersebelahan. Lima goyangan di sini, lima goyangan di situ. Bergantian dan agar adil maksudnya. Tangannya meraba-raba kedua tubuh gadis itu secara bersamaan. Satu tangan buat yang ini, satu tangan yang lain buat yang itu, dengan dada dan pantat menjadi sasaran utama. Adapun kedua satpam yang lain terlihat sudah tergolek tak berdaya.

Pria bersepatu lars tersebut segera meninggalkan kompleks museum melalui pintu gerbang utama yang terlupa belum dikunci. Sebuah mobil warna merah metalik sudah menunggu di sana.
"Cepat masuk", perintah si pengemudi mobil.
Kemudian dengan cepat mobil itu menghilang di kegelapan malam Jalan Sukamiskin.

Sambil berjalan dengan cepat, pria bersepatu cats tadi mengeluarkan sebuah telepon genggam. Wajahnya tegang menunggu respons.
"Halo", terdengar suara di telepon.
"Halo, gagal Bos, nanti saja saya ceritakan di kantor", katanya singkat.
Dimatikan teleponnya, dan segera ia berjalan ke belakang sebuah gardu listrik. Rupanya ini adalah tempat dia menyembunyikan sepeda motornya. Sebuah sepeda motor bebek warna hitam.

*****

Siapakah kedua gadis cantik itu? Siapakah sebenarnya pencuri berlian Kohinoor? Nantikan kelanjutannya dalam sequel berikutnya (Para Pion). Yang pasti, dugaan anda semua dijamin pasti keliru!

Bersambung . . .




 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald